Sulut – Harga jual kopra di Sulawesi Utara mulai membaik yang kini menyentuh Rp 8000 per kilogram. Kembali berkibarnya harga produk turunan kelapa atau “emas hijau” ini membuat petani kelapa di Bumi Nyiur Melambai bisa tersenyum dan bersemangat lagi.
Kadisperindag Sulut Edwin Kindangen mengatakan, naiknya harga kopra saat ini karena intervensi dari Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven O.E Kandouw.
Kindangen menuturkan, ketika harga korpra terjun bebas, Pemprov Sulut tak tinggal diam namun terus mencari solusi untuk mengatasinya. Salah satunya dengan mengumpulkan pihak pembeli pada tahun 2018 lalu agar dapat membeli kopra petani dengan harga yang layak.
Saat itu, pihak perusahaan berani membeli kopra pada kisaran harga Rp 5.000 per kilogram untuk kopra dengan kualitas baik. Seiring waktu berjalan, harga kopra terus meroket hingga sekarang.
- Hadirkan Semangat Baru Bagi Warga Terdampak Banjir, PLN UP3 Gorontalo Salurkan 535 Paket Sembako di Lima Desa di Gorontalo Utara
- Semangat Hari Lahir Pancasila, PLN UP3 Kotamobagu Salurkan 150 Paket Sembako untuk Masyarakat Miskin Ekstrem di Bolaang Mongondow Utara
- Gubernur Yulius Ajak Warga Jaga Kelestarian Lingkungan Demi Masa Depan Generasi Mendatang
“Dari harga yang bercokol di kisaran Rp 5.000/kg, ternyata terus merangkak naik hingga kini di awal tahun 2020, harga di tingkat petani telah menembus nilai Rp 8.000 per kilogram,” kata Kindangen di Manado, Senin (6/1/2020).
Selain itu, Pemprov Sulut juga melakukan upaya lainnya, yaitu dengan mengembangkan industri minyak goreng kelapa skala kelompok tani melalui pemberian bantuan mesin produksi minyak kelapa untuk kelompok tani yang akan mengelola industri minyak goreng kelapa.
Tak dapat dipungkiri, naiknya harga korpra menguntungkan sektor perekonomian Sulut khususnya petani kelapa. Untuk itu, Kindangen berharap, keadaan ini dapat bertahan bahkan bisa terus naik.
Lebih lanjut, kindangen berharap kelompok petani kelapa di kabupaten dan kota di Sulut dapat terus berinovasi mengolah berbagai produk turunan kelapa lainnya diluar kopra.
“Produk turunan kelapa jika diolah dengan baik bernilai ekonomi tinggi. Ini upaya juga meningkatkan perekonomian daerah,” kuncinya. (JM)








