Tomohon – Sekretaris Daerah Kota Tomohon Ir. Harold V. Lolowang, MSc, membuka kegiatan Pembuatan Dokumentasi Sejarah dan Budaya Daerah yang di hadiri oleh para Penggiat Seni se-Kota Tomohon.Digelar di AAB Guest House, Jumat (27/09/29).
Sebagai narasumber Ketua Umum Rumah Budaya Nusantara Wale Ma’Zani Joudy Aray, S.Pd, Dekan Fakultas Pariwisata Unika De La Sale Manado DR. Stevanus Ngenget,SS,MA, Dosen Ilmu Budaya dan Agama Universitas Denpasar Bali DR. Dominika Dini Afiat, ST, MM, serta Moderator Ambrosius Loho, S.Fils, M.Fils Dosen Unika De La Sale Manado.
Sambutan Walikota yang di bacakan sekda Lolowang menyampaikan Kolintang adalah alat musik tradisional. namun sesungguhnya istilah tradisional inilah yang sering kali menjadi masalah bagi pengembangan kolintang.
“Kolintang di satu sisi adalah jenis musik tradisional tapi di sisi lain, dari musik yang sedemikian tradisional itu, mengandung nilai estetika yang mendalam. Sampai saat ini, diyakini bahwa musik kolintang akan tetap eksis dan akan terus ada dalam persaingan,” Ucap Sekda Lolowang.
- Melangkah Sehat, Bergerak Hijau: PLN UP3 Luwuk Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan Aksi Bersih Lingkungan
- Gelorakan Semangat Pancasila, PLN dan Pemprov Sulteng Kejar Target 100% Desa Berlistrik di 2029
- Pansus RTRW Menggelar Rapat Penyempurnaan Hasil Evaluasi Kemendagri Terhadap Ranperda RTRW Tahun 2025-2044
Di jelaskan Sekda Lolowang,tumbuh dan berkembangnya musik kolintang ini, menunjukkan bahwa proses pemaknaan produk budaya, terkait erat dengan konteks yang melingkupinya.
“Kajian ini kiranya merupakan awal dari upaya menggali nilai-nilai estetika yang terdapat dalam berbagai bentuk seni di nusantara,” Ungkap Sekda Lolowang.
Tiga unsur estetika yang tidak bisa diabaikan, yakni wujud/rupa, bobot/isi, dan penampilan/penyajian. Tiga unsur estetika dalam setiap kesenian tersebut, dimiliki juga oleh musik kolintang. (Oma)






