MINAHASA – Sebagai penyakit menular berbahaya di Indonesia, Demam Berdarah Dengue (DBD) perlu mendapat perhatian di tengah pandemi Covid-19. Data Dinas Kesehatan Minahasa sejak Januari hingga Pebruari 2022 ini telah mencapai 36 kasus.
Dari data tersebut, kasus penyebaran tertinggi yakni pada bulan Januari sebanyak 29 Kasus, sementara Pebruari bulan berjalan terkonfirmasi baru 7 kasus.
Sekertaris Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr. Gabby Daoly, mengatakan DBD ini sebenarnya setiap waktu selalu ada. Data DBD akan semakin tinggi terjadi pada awal-awal musim hujan dan akhir musim hujan. Terutama di akhir musim hujan dimana volume hujan tidak terlalu deras tetapi seringkali menimbulkan banyak genangan air dimana-dimana.
“Secara umum nyamuk Aedes Aegypti senang tinggal di air yang relatif jernih, utamanya di bak-bak mandi di rumah. Karenanya sepanjang tahun nyamuk ini selalu ada sehingga penularannya juga sepanjang tahun, tetapi peningkatan paling tajam di awal dan akhir musim penghujan,” Ujar dr. Gabby.
Oleh karena itu, katanya, yang terpenting harus tahu diagnosisnya terlebih dahulu sehingga bisa dilakukan cara pengobatannya yang tepat. Sebab, jika hanya melihat dari ciri demam saja, baik DBD maupun covid juga dicirikan demam tinggi.
“Jadi, sebaiknya jika panas entah covid atau DBD segera ke fasilitas kesehatan karena seperti di Jogja dan sekitarnya masih tinggi, utamanya perbatasan Jogja, Bantul dan Sleman cukup tinggi jadi perlu waspada juga untuk DBD,” Jelas dr. Gabby.
dr. Gabby juga berharap dan menghimbau, agar masyarakat tetap waspada dengan mengambil upaya 3M, yakni membersihkan penampungan air, menutup penampungan air dan mengubur barang bekas.
Sementara itu, upaya cepat pencegahan terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Minahasa, melalui Dinas Kesehatan, yakni melakukan Fogging di -daerah rawan DBD. (Rosid)
![]()










