Sulut – Strategi brilian Gubernur Sulut Olly Dondokambey SE,yang menjadikan minyak kelapa murni dalam kemasan botol menarik sebagai oleh-oleh wajib wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sulawesi Utara ternyata mampu menciptakan efek berantai pariwisata pada pengembangan sektor primer dan sektor sekunder.
“Di Sulut setiap hari ada 1.000 turis yang datang. Agar menarik minyak kelapa ini dikemas dengan botol yang menarik, seperti botol olive oil dari luar negeri,” kata Olly belum lama ini.
Selain itu, Olly juga mengapresiasi keberadaan sejumlah kawasan wisata kuliner yang mampu menarik minat wisman untuk membelanjakan uangnya.
Diketahui, pengembangan sektor primer dan sektor sekunder ini mendorong pengembangan produk pertanian/perkebunan atau industri berbasis UMKM yang dapat dinikmati dan dibawa sebagai buah tangan oleh wisatawan tentunya akan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi.
- Pondasi Iman dan Kebersamaan, PLN UID Suluttenggo Dukung Penuh Kegiatan Keagamaan Hapsa P/KB Sinode GMIM Tahun 2026
- Gelar Srikandi Goes to School di SMA Negeri 1 Manado, PLN UID Suluttenggo Perkuat Karakter dan Literasi Energi Generasi Muda
- Gerakan Ekonomi Hijau, Dekranasda Bitung Gelar Pelatihan Pembuatan Tas Kresek Jadi Produk Bernilai Jutaan
Strategi Olly ini diperkuat dengan pendapat dari Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Ateng Hartono soal efek berantai pariwisata Sulut.
Dalam catatannya, Ateng menjelaskan efek berantai tersebut dengan jumlah penumpang pesawat dan kapal laut yang datang ke Sulut pada bulan Juni 2019 sebanyak 165.216 orang. Sedangkan yang berangkat dari Sulut ke daerah lainnya melalui angkutan laut dan udara pada bulan tersebut sebanyak 148.495 orang.
Tambah Ateng, dengan demikian rata-rata penumpang yang berangkat ke daerah lainnya di luar Sulawesi Utara setiap hari di bulan Juni sekitar 4.950 orang. Penumpang yang datang dan berangkat tersebut tentunya sebagian berasal dari wisatawan dalam negeri.
“Sebagai bahan perbandingan, pada bulan Juni 2019 penumpang yang datang dari luar negeri sebanyak 9.190 orang dan yang berangkat sebanyak 9.356 orang,” tandas Kepala BPS Sulut.
Ateng menuturkan, jika saja penumpang yang berangkat atau sebagian wisatawan dalam negeri membawa buah tangan atau oleh-oleh minimal Rp. 200.000 maka akan ada perputaran uang yang cukup besar setiap harinya ke UMKM yang menyediakan barang-barang khas Sulut. Tambah dia, perputaran tersebut akan semakin besar saat wisatawan menikmati kuliner dan lainnya di Sulut.
“Inilah yang dinamakan efek berantai pariwisata yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi tercinta ini,” tutup Ateng. (*/JM)





