Minut-Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara di bawah kepemimpinan Bupati Joune Ganda bersiap mengambil peran strategis dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Joune menegaskan, momentum kebijakan pangan yang tengah digencarkan pemerintah pusat harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani dan nelayan.
Hal itu disampaikan Joune usai menghadiri Town Hall Meeting bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan di Jakarta, Selasa (21/10/2025). Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Menteri Pertanian, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Perdagangan, serta Menteri ATR/BPN.
“Pertemuan ini sangat substantif. Pemerintah pusat menargetkan tahun 2025 Indonesia tidak lagi mengimpor beras, turun drastis dari sekitar empat juta ton pada 2024. Ini capaian luar biasa dan peluang besar bagi daerah untuk berkontribusi,” ujar Joune Ganda, Kamis (23/10/2025).
Sebagai Sekjen Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi), Joune menilai target tersebut menjadi momentum penting bagi daerah untuk memperkuat produksi pangan lokal. Ia menyebut, program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih akan mendorong peningkatan permintaan pangan nasional secara signifikan.
Baca:Pemkab Minut Raih Apresiasi KPK Atas Kepatuhan Developer Serahkan PSU
“Permintaan pangan pasti melonjak, dan ini kesempatan emas bagi petani dan nelayan untuk meningkatkan produktivitas. Kita tidak boleh hanya jadi penonton,” tegasnya.
Joune mengungkapkan, pemerintah pusat juga tengah menyiapkan kebijakan terkait produksi etanol berbasis bahan baku pertanian. Jika Keputusan Presiden (Keppres) tentang etanol resmi diterbitkan, kebutuhan terhadap komoditas seperti ubi dan jagung akan meningkat tajam.
“Kalau Keppres etanol itu keluar, permintaan ubi bisa melonjak luar biasa. Ini peluang besar untuk petani kita,” kata Joune.
Melihat potensi tersebut, Joune langsung menginstruksikan Dinas Pertanian Minahasa Utara untuk mempercepat penyediaan bibit unggul dan membuka lahan produktif baru. Saat ini, pemerintah daerah telah menyalurkan bibit jagung dan kelapa dalam ke masyarakat, serta mengembangkan 10.000 hektare lahan kelapa untuk program peremajaan dan penanaman baru.
“Wilayah kita punya keunggulan tanah yang sangat cocok untuk kelapa. Bahkan pasar ekspor seperti China sedang membutuhkan pasokan kelapa dalam jumlah besar. Ini peluang ekonomi yang tidak boleh disia-siakan,” ungkapnya.
Menurut Joune, pengembangan industri hilirisasi kelapa juga menjadi fokus utama agar nilai tambah produk pertanian dapat dinikmati masyarakat secara langsung.
“Dengan pengelolaan yang tepat, industri kelapa akan menjadi penggerak utama ekonomi daerah sekaligus memperkuat posisi Minahasa Utara sebagai lumbung pangan nasional,” tandasnya. (T3/*)








