Minut-Ancaman terhadap ekosistem laut di wilayah pesisir Minahasa Utara kian nyata. Dugaan pencemaran limbah dari PT Kether Coco Bio yang mengalir melalui sungai di Desa Tontalete kini menjadi perhatian serius masyarakat, terutama karena aliran air itu bermuara langsung ke laut Kema.
Hukum Tua Desa Tontalete, Justus Watuna, membenarkan keluhan warga terkait kondisi air sungai yang keruh dan diduga tercemar limbah industri. Ia menyebut, dampak paling signifikan dirasakan oleh warga Jaga 6 yang tinggal di sekitar aliran sungai.
“Keluhan itu benar adanya. Ada dokumentasi foto yang menunjukkan kondisi aliran limbah. Hingga saat ini, air masih tampak keruh,” ujar Justus, Kamis (7/8/2025).
Lebih jauh, Justus mengingatkan potensi dampak jangka panjang terhadap ekosistem laut di Kema jika situasi ini terus dibiarkan.
- Menteri Nusron Ingin Target PTSL 2027 Ditambah, Perluas Kepastian Hukum Bagi Masyarakat
- Bahas Rencana Kerja TA 2027 Dengan Komisi II DPR RI, Menteri Nusron Usulkan Pagu Anggaran Rp.10 Triliun
- Laporkan Progres Dukungan KSPEAN Papua Selatan, Wamen Ossy Tegaskan Landasan Kuat Agenda Pembangunan Nasional
“Aliran sungai itu langsung ke laut. Kalau tidak segera ditangani, bisa membahayakan biota laut dan nelayan yang menggantungkan hidup di sana,” tegasnya.
Faktanya, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Kether Coco Bio belum memberikan keterangan resmi.
Adapun wartawan yang mendatangi lokasi perusahaan hanya diarahkan untuk menghubungi bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia atas nama Deiby. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp telah terkirim namun belum mendapat respons.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan investigasi serta memastikan penanganan limbah dilakukan sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku. (T3)







