SULUT – Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menghadiri rapat bersama dengan jajaran Forkopimda dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut dalam rangka menyambut Natal dan Tahun Baru (Nataru) di tengah pandemi Covid-19 yang berlangsung Kantor Gubernur, Senin (21/12/2020).
Kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19 dan diikuti oleh pimpinan golongan agama yang ada di Sulut.
Dalam rapat turut hadir, Ketua DPRD Sulut Andi Silangen, Wakil Gubernur Sulut Steven O.E. Kandouw dan Sekdaprov Sulut Edwin Silangen.
Dalam arahannya, Gubernur Olly menjelaskan bahwa perayaan Natal dan Tahun Baru di rumah ibadah tetap ada dengan dibatasi hanya untuk pengurus gereja saja.
- DPRD Morut Gelar Rapat Paripurna, Penyampaian Laporan Pertanggung Jawaban Pelaksanaan APBD TA 2025
- Diduga Pengedar Sabu, Warga Manembo-nembo Atas Ditangkap Sat Res Narkoba Polres Bitung
- Terima Kedatangan BPS Bitung Untuk Sensus Ekonomi di Keluarga Maringka Gumolung, Wawali Himbau Masyarakat Buka Pintu Rumah
“Kita tidak menutup tetapi meminta penyelenggaraan di rumah-rumah ibadah dibatasi pada pengurus-pengurus,” kata Olly
“Artinya kalau jemaatnya silahkan live streaming dari rumah masing-masing sehingga kita bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini,” lanjutnya.
Olly menerangkan bahwa keputusan penyelenggaraan ibadah Natal dan Tahun Baru bagi jemaat di rumah masing-masing merupakan keputusan dari hasil pertemuan dengan Forkopimda dan gugus tugas Covid-19 demi menekan laju penyebaran Covid-19.
“Saya kira pertemuan kita hari ini, kami hadir di sini lengkap dengan Forkopimda dan gugus tugas menyampaikan pokok-pokok pikiran yang sudah kami putuskan bersama,” terangnya.
Lebih jauh, Olly menerangkan bahwa gereja menjadi teladan dalam memberikan edukasi yang baik bagi masyarakat dalam memerangi pandemi Covid-19.
“Tentunya memberi contoh yang baik harus dari rumah-rumah ibadah sehingga banyak hal, manfaat yang harus kita lakukan bersama,” ungkapnya.
Untuk itu, Olly mengharapkan adanya kerjasama yang baik dengan para pemimpin gereja sehingga masyarakat Sulut yang dikenal selalu menjaga toleransi ini dapat saling memahami apa yang menjadi kesepakatan bersama. (*)






