oleh

Capai Realisasi Investasi Rp 11.07 Triliun,Pemkab Morut Raih Penghargaan Dari Pemprov Sulteng

Kolonodale – Kabupaten Morowali Utara menerima penghargaan atas pencapaian tertinggi realisasi investasi tahun 2021 sebesar Rp 11,07 triliun.

Penghargaan tersebut diserahkan Gubernur Sulawesi Tengah diwakili PJ Sekda Sulteng Ir. H. Moh. Faisal Mang, MM, di Gedung Morokoa Kolonodale, Senin malam.

Pemberian penghargaan itu dilaksanakan pada pembukaan Rapat Koordinasi Penanaman Modal se Sulawesi Tengah tahun 2022. Rakor itu diikuti Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulteng serta DPMPTSP 13 kabupaten/kota.

Dalam acara itu diserahkan penghargaan kepada tiga besar pencapaian realisasi investasi tertinggi yakni Morowali mencapai Rp 28,77 triliun, Morut Rp 11,07 triliun dan Poso Rp 1,68 triliun.

Bupati Morut Delis Julkarson Hehi yang memberikan sambutan selaku tuan rumah menyatakan sangat berterima kasih atas ditunjuknya Morut sebagai tempat pelaksanaan rakor DPMPTSP se Sulteng.

“Kepercayaan ini akan lebih menambah semangat kami dalam meningkatkan pencapaian investasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Morut,” ujarnya.

Ia mengakui, dalam pencapaian investasi tahun 2021, Morut menempati urutan kedua setelah Kabupaten Morowali. Pencapaian Rp 11,07 triliun itu melampaui target atau setara 126 persen.

“Pencapaian investasi itu melampaui target. Tapi anomalinya angka kemiskinan dan pengangguran tidak menurun signifikan. Ini yang jadi tantangan kami,” tutur Bupati Delis.

Dengan gambaran itu, lanjutnya, kini muncul pertanyaan besar apakah investasi yang masuk berdampak besar bagi daerah yang menjadi tujuan investasi seperti Morut ini.

Setelah dilakukan analisa dan kajian, didapatkan kesimpulan bahwa, pertama, yang menjadi penyebab meningkatnya investasi tapi tidak menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran adalah akibat banyaknya tenaga kerja yang dari luar.

Kedua, investasi yang masuk tidak melibatkan UMKM lokal, tidak melibatkan secara maksimal masyarakat lokal dalam industri-industri pendukung.

“Untuk itu, kami telah mewajibkan setiap perusahaan yang masuk di Kabupaten Morowali untuk memprioritaskan putra daerah untuk diterima sebagai karyawan di industri tersebut. Anak-anak daerah harus diprioritaskan agar bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” tegas bupati yang disambut tepuk tangan.

Bupati mengungkapkan pihaknya sudah meminta kepada industri pertambangan yang menanamkan investasinya di Morut agar dalam rekrutmen karyawan memperhatikan tiga kategori yakni apa yang disebut WA (warga asli), WP (warga pendatang) dan WL (warga luar).

Prioritas pertama, katanya warga asli PR pertama yaitu warga asli, kemudian dia itu yang orang tuanya ber-KTP, setelah itu warga pendatang yang menjadi warga baru yakni baru ber-KTP Morut, dan terakhir pendatang yang ber-KTP luar.

“Mohon maaf, kebijakan ini terpaksa kami ambil dalam rangka menurunkan angka pengangguran dan angka kemiskinan di Kabupaten Morowali Utara,” jelasnya.

Acara pembukaan itu turut dihadiri Kadis DPMPTSP Sulteng Moh. Rifani, S.Sos, M.Si dan pejabat yang mewakili Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal RI Moh. Subehan, SE.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan MOU pencapaian target investasi tahun 2022 yang ditandatangani semua Kadis DPMPTSP Kabupaten/kota se Sulteng. (*/Johnny)