Sitaro – Makalehi pulau Perbatasan Kini dan Nanti Sulit membayangkan bagaimana sebuah kehidupan bisa survive bagi masyarakat penghuni pulau terluar yang berciri khas pulau karang ini, pulau Makalehi sebagai pulau terluar NKRI berbatasan dengan Negara Philipina, berkedudukan di wilayah barat tepat di depan pulau Siau,tergabung dengan kecamatan Siau Barat kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) Provinsi Sulawesi Utara.
Pulau Makalehi berada pada titik koordinat 01″ 46″ 53″ Lu dan 119″ 12″ 50″ BT , pulau ini memiliki keaneka ragaman hayati laut yang tinggi seperti terumbu karang biota laut, mangrove, padan lamun dan ribuan spesies ikan.
Di perairan pulau Makalehi di kenal dua macam arah angin yang berpengaruh terhadap gelombang dan arus yakni angin utara dan angin selatan. Pada saat angin bertiup dari utara, justru arus mengalir dari selatan ke utara begitu pun sebaliknya pada saat angin utara,bertiup arah kecepatan angin bisa sangat tinggi dan menyebabkan gelombang besar dan kapal perahu tidak mampu melewati perairan ini dan dua angin yang tergolong keras adalah angin selatan dan angin barat.
Luas wilayah pulau karang ini adalah sebesar 380 Ha ,pada tahun 2022 jumlah penduduk yang menghuni pulau ini sekira 1327 jiwa yang tersebar di tiga desa yakni desa Makalehi Induk , desa Makalehi Timur , desa Makalehi Utara kini keberadaan desa yang pernah menjadi desa terbaik nasional penerimah predikat Adi Karya Bhakti Praja suatu penganugrahan yang di berikan dengan standart penilain dari berbagai aspek baik kehidupan sosial masyarakatnya maupun penataan tata letak perhunian dan sistim adminitrasi pemerintahanya yang bisa di kategorikan terbaik secara nasional (2017).

Ditengah pulau Makalehi terdapat suatu danau yang masyarakat menyebut namanya Danau Cinta, karena jika di lihat dari puncak bukit sisi kanan tampak kawah danau membentuk seperi bentuk buah hati.
Awalnya masyarakat pulau Makalehi kehidupan sosialnya begitu terkenal dengan hidup gotong- royong yang tinggi,hal ini di buktikan dengan adanya kebersamaan dalam kegiatan penangkapan ikan menggunakan alat tradisional terbuat dari anyaman bambu dan rotan yang di sebut Seke Maneke, syarat dengan nilai ritual qaidah kepercayaan pendahulu yang melekat dan masih di terapkan kala melakukan aktifitas ini, hasil tangkapan pun berbuah banyak dan bisa mencukupi kebutuhan saat itu.
Perubahan musim dan waktu pun berganti modernisasi pun mulai menghinggapi pemikiran masyarakat dan mulai mengikis pola tradisional dengan dalil beralih kelebih moderen sistiem tangkap ikan pun menggunakan cara baru yaitu menggunakan Perahu mesin jala atau jaring penangkap ikan yang di sebut Pajeko, yang dulu tradisional dilakukan secara bersama oleh masyarakat nelayan,kini cara baru terpola pada kelompok
mereka berlomba pada cara baru ini sehingga ada puluhan kelompok pajeko terbentuk di pulau Makalehi saat itu. Ini secara kelamaan mempengaruhi jumlah tangkapan ikan atau berkurangnya pertumbuhan salah satu spesies ikan dalam metode tangkap jaring pajeko .
Masyarakat nelayan Makalehi pun bergeser dari kelompok ke individu dalam aktifitas tangkap ikan dan sebagian masyarakat nya memilih beralih profesi lain, sementara sebagian memilih urbanisasi ke kota atau kedaerah lain untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidup atau tinggal di tempat lain, persoalan lainya adalah
Luas wilayah perkebunan semakin sempit karena populasi perhunian yang di bangun sehingga sulit menggarap lahan perkebunan yang luas.
Hadirnya sejumlah dana diantaranya dana desa dan ADD serta kebijakan pengembangan wilayah pesisir oleh pemerintah kabupaten Siau Tagulandang Biaro dan pusat berupa pembangunan sarana jalan lingkar membawa angin segar bagi masyarakat yang masih bertahan dan tinggal di pulau Makalehi, dimana mereka mendapat pendapatan baru dengan cara memamfatkan galian c untuk di jual dalam bentuk kubikasi. Namun suasana itu mulai berubah setelah adanya larangan penambangan galian c dan masyarakat mulai terhenti dalam aktifitas penambangan karena akan merusak daerah wilayah pesisir dan mengakibatkan erosi dan bencana lainya masyarakat pun hanya diam dan menurut .
Kegelisahan itu pun di ungkap salah satu Kepala Desa atau Kapitalau sebutan lain pemimpin adat yang juga kepala desa terlama dalam jabatan nya (sekarang kepala desa Makalehi Utara). Kepada media ini sebelum berkisah Mon Kalebos menuturkan, bagaimana Makalehi yang dulunya dimana profesi penduduknya kala itu 80% sebagai nelayan dan menggantungkan hidup dari hasil laut. “Kini perubahan pun terjadi 100 derajat berubah menjadi masyarakat yang hanya berharap dan bergantung pada sentuhan dana desa dan Alokasi dana desa yang jumlahnya pertahunnya semakin berkurang, sehingga ini lah menjadi kegelisahan masyarakat yang menghuni di tiga desa di pulau ini,”Tutur Mon Kelebos.
Belum lagi hadirnya rumpon – rumpon atau semacam alat penangkaran ikan milik pengusaha pajeko dari daerah lain yang letaknya berjejeran di depan pulau kami menyebabkan sulitnya nelayan kami boleh mendapatkan hasil tangkapan yang lebih serta dampak perubahan cuaca ekstrim urainya terlihat dan tergambar nada dan raut muka cemas dan sedih kepada mèdia ini.
Hal ini hendaknya menjadi perhatian baik pemerintah daerah dan provinsi serta pemerintah pusat untuk memberi perhatian lebih bagi pengembagan daerah pesisir pulau terluar serta geliat ekonomi harus di hidupkan agar supaya memberi dukungan bagi nasib masyarakatnya untuk bisa mengatasi persoalan kini yang di hadapi maupun ancaman dimasa datang dan ini membutuhkan perhatian serius bagi pengambil dan pemangku kepentingan termasuk bapak Presiden Ir Joko Widodo dan pemerintah, negara perlu ada konsep jelas bagi pulau- pulau perbatasan di NKRI ini agar tidak lepas dari pangkuan pemerintahan, negara dengan jaminan proteksi pembantuan pembangunan yang jelas dan berkesinambungan termasuk pulau-pulau pesisir lainya, negara harus menjamin keberlangsungan hidup masyarakatnya dan pemerintah hadir untuk itu.
Sekedar memberi gagasan sederhana sebagai berikut;-
Sistem pertanian cara bercocok tanam di geser ke sistem poliback dan sistem hidroponik bagi pemenuhan kebutuhan tanaman rempah rempah dan bumbu dapur karena keterbatasan lahan
–
Menggeser kebutuhan air minum sumber PDAM bagi warga akan air bersih ke metode sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi masyarakat di pulau ini.
Memanfaatkan danau Makalehi menjadi penangkaran ikan air tawar , dan jenis ikan air tawar lainya dengan tidak mengurangi kesan Danau Cinta sebagai area wisata yang di tata layaknya spot wisata yang menarik dan perlu penataan daya tarik tersendiri akan fasilitas dalam danau kebutuhan bagi wisatawan yang berkunjung dan kegiatan wisata di bawah laut pulau Makalehi.
Perlu adanya penegasan batasan wilayah teritorial tangkap ikan dan penertibanya bagi nelayan dari daerah lain termasuk masalah rumpon rumpon yang ada di depan pulau itu.
Lindungi dan lestarikan terumbuh karang dan biaota laut serta reboisasi kembali hutan bakau atau mangrove di pulau Makalehi demi berkembangnya spesies ikan yang mulai terancam punah. (*)
Penulis : Heriwan Kasiahe









