Morut-Kantor Pertanahan (Kantah) ATR/BPN Kabupaten Morowali Utara (Morut) resmi memulai babak baru. Kepala Kantor (Kakan) ATR/ BPN Morut baru, Ir Zaldi Amir SST MH, hadir secara perdana untuk memperkenalkan diri secara langsung di hadapan seluruh jajaran pejabat struktural dan staf yang ada di Kantah ATR/BPN Morut.
Perkenalan tatap muka ini bukan sekadar seremonial biasa, melainkan menjadi momentum krusial untuk menyamakan frekuensi demi membangun marwah instansi yang lebih positif, profesional, dan berintegritas.
Kakan ATR/BPN baru, Zaldi Amir, dalam sambutannya, menyampaikan, apresiasi atas capaian yang telah diraih oleh seluruh tim selama ini.
“Kantah ATR/BPN Morut, telah memiliki pencapaian yang luar biasa. Tugas kita bersama sekarang adalah, bagaimana kita mampu mempertahankan dan membuatnya jauh lebih baik lagi kedepannya,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Zaldi Amir, menitipkan beberapa pesan mendalam sebagai komitmen bersama dalam menjalankan roda organisasi. Pegawai diminta untuk tidak ragu dalam memberikan performa maksimal.
“Tunjukkan kinerja terbaik. Jangan takut untuk bekerja dengan baik dan benar, karena setiap dedikasi pasti akan dinilai dan diapresiasi oleh Pimpinan. Itulah pengalaman yang selama ini saya lalui,” tegasnya memotivasi.
Selain aspek kinerja, ia juga mengajak seluruh pegawai untuk memiliki ‘seni mengelola tantangan’. Semua elemen di dalam kantor harus mampu menciptakan dan menghadirkan rasa nyaman, bahkan di dalam situasi atau lingkungan kerja yang paling tidak nyaman sekalipun. Namun, di atas segala ikhtiar lahiriah tersebut, ia mengingatkan jajaran untuk senantiasa bekerja dengan landasan iman.
Dirinya mengajak semua pegawai meyakini bahwa versi terbaik yang direncanakan oleh Yang Maha Kuasa selalu lebih indah dari apa yang direncanakan oleh manusia.Sebuah refleksi mendalam turut disampaikan mengenai esensi pengorbanan dalam bekerja. Menggunakan analogi roda hamster (hamster wheel).
“Saya mengingatkan agar seluruh pegawai menghindari jebakan rutinitas. Harapannya tidak ada pegawai yang hanya terlihat sibuk di permukaan, tetapi sebenarnya tidak bergerak maju atau sekadar jalan di tempat tanpa menghasilkan dampak yang substantif.
Refleksi ini diperkuat dengan fakta bahwa tuntutan waktu kerja memaksa setiap pegawai untuk meninggalkan rumah dan keluarga tercinta, sekaligus menjadikan kantor sebagai rumah kedua,”kata Zaldi Amir. (HmsATR/BPN/NAL)






