Manado – Terkait kasus percobaan pembunuhan dan pembacokan yang terjadi di Perkebunan Alason, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), pada Minggu (7/2) kemarin, Berry Betrandus (42) warga Kecamatan Mapanget, buka suara tentang kronologis kejadian yang menyebabkan luka menganga dan retakan di tengkorak kepalanya.
Berry menuturkan kepada sejumlah awak media, kejadian tersebut berlatar dari aksi penyerobotan tanah yang saat ini sedang berproses hukum di Pengadilan Tinggi Manado.
“Sabtu sore, saya mendapatkan informasi akan ada massa yang masuk, dan sekitar 18.30 Wita dapat informasi lagi, bahwa malam nanti akan ada kosentrasi massa dan alat berat akan masuk ke tanah yang sedang bersengkata antara kami dengan seorang yang bernama Yandri. Awalnya saya tidak mau ke lokasi, karena jumlah massa yang terinformasi akan kesitu sekitar 30 orang. Tetapi karena masih dapat informasi ada konsetrasi massa, maka sekitar 03.40 Wita, bersama teman saya Sepo, menuju ke lokasi untuk menegur para pekerja disitu. Saat tiba, saya melihat ada dua sekuriti yang berjaga. Saya langsung bertanya kepada mereka, apakah tahu kalau tanah ini bermasalah? mereka menjawab mengawal alat berat dan mengaku kalau mereka disuruh bos, dan saat berdialog tidak ada adu mulut atau adu fisik,” beber Berry, via telepon, Rabu (10/2) siang tadi.
Lanjut korban, setelah berdialog, para pelaku memboyong alat berat dan meninggalkan tanah itu, “Karena mereka sudah keluar dari tanah itu, saya hendak kembali ke camp. Saat menuju Camp, secara tiba-tiba puluhan orang langsung datang dengan sajam dan mengepung saya. Saat sedang bicara, tiba tiba ada yang memukul saya dengan menggunakan besi. Tak hanya sampai disitu, mereka juga menodongkan tombak dan parang. Beruntung teman teman saya datang.
Soal adanya pernyataan yang menyebutkkan terjadi penembakan kepada salah satu tersangka, kata Berry, hal itu tidak pernah terjadi.
“Bagaimana saya mau mencabut Airsoftgun? Mereka tiba-tiba mengepung saya dan langsung memukul saya dibagian kepala. Saya juga ditodong dari berbagai arah dengan tombak dan parang. Saat ditodong, mereka yang malah menyuruh saya mengelurkan Airsoftgun yang masih tersarung dan berada dipinggang. Dan bagaimana juga saya mau menembak, karena saya tau Airsoftgun itu dalam keadaan rusak dan tidak ada magasinenya. Setelah saya keluarkan mereka langsung mengambilnya,” kata Berry.
Dia mengatakan, kalau dia menggunakan unit (airsoftgun) itu, maka kondisinya akan lebih parah bukan seperti sekarang.
Juga mengenai laporan, dia mengatakan heran karena adanya laporan penembakan dengan peristiwa penganiayaannya itu ada interval waktu yang lama, tetapi darahnya segar.
Atas kejadian itu, dirinya berharap mendapatkan keadilan dan para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatannya.
“Saya meminta pihak kepolisian untuk menelusuri otak dari kejadian ini. Saya menduga, mereka disuruh oleh seseorang. Karena saat saya berdialog dengan mereka sebelum terjadi pembacokan, saya dan beberapa pelaku sempat berdialog. Dan saat itu tidak terjadi adu mulut dan kekerasan. Setelah mereka meninggalkan tanah yang bersengketa itu, mereka kembali dan langsung mengepung serta menganiaya saya. Jadi saya pikir, mereka disuruh oleh seseorang,” pungkasnya. (Dwi)
![]()
