MINUT-Kabupaten Minahasa Utara menjadi salah satu dari enam daerah di Sulawesi Utara yang mengalami kenaikan prevalensi stunting berdasarkan data terbaru tahun 2024.
Dalam Rapat Koordinasi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Minut yang dirangkaikan dengan peluncuran aplikasi SIGAP Stunting dan JaGa Mahkota Minut di JG Center, Selasa (17/6/2025), Kepala Perwakilan BKKBN Sulut, dr Jeanny Yola Winokan, membeberkan bahwa angka prevalensi stunting di Minut naik signifikan.
“Target prevalensi Minut tahun 2024 ada di angka 10,23 persen, tetapi hasil SKI 2023 menunjukkan 10,9 persen, dan SSGI 2024 justru melonjak hingga 18,9 persen. Ini menunjukkan adanya gap besar yang perlu menjadi perhatian bersama,” ungkap dr Jeanny.
Selain Minut, daerah lain yang juga mencatatkan lonjakan stunting adalah Kepulauan Sangihe, Minahasa Selatan, Minahasa, Kota Bitung, Tomohon, dan Kotamobagu.
Meski demikian, dr Jeanny menilai strategi Pemerintah Kabupaten Minut sebenarnya sudah berjalan maksimal. Hanya saja, metode pengumpulan data yang digunakan oleh SKI dan SSGI bersifat nasional dan tidak bisa diintervensi oleh daerah.
“Penanganan stunting tidak boleh hanya fokus pada yang sudah masuk kategori stunting. Harus ada pencegahan sejak awal terhadap keluarga berisiko stunting,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya penggunaan data by name by address dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting, serta tidak bingung dalam penggunaan data SSGI, SKI, atau e-PPGBM karena masing-masing memiliki fungsi berbeda.
“Semua format ini saling melengkapi strategi di lapangan. Kuncinya adalah perubahan perilaku keluarga, bukan hanya pemberian nutrisi,” ujarnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Bupati Minahasa Utara Joune Ganda meminta agar aplikasi SIGAP Stunting dan JaGa Mahkota Minut benar-benar dimanfaatkan secara optimal.
“Jangan sampai ini hanya sekadar seremoni launching. Aplikasi ini bisa menjadi alat bantu mitigasi dan mencegah munculnya kasus stunting baru,” kata Ganda.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor sebagai motor penggerak dalam menurunkan angka stunting.
“Komitmen saja tidak cukup. Harus ada aksi nyata dan evaluasi berkala agar program ini tidak mandek di tengah jalan,” tutupnya. (T3/*)








