Jumlah Kasus HIV/AIDS di Morut Tren Menurun, Dua Tahun Terakhir Ini

Morut-Jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Morowali Utara (Morut), menunjukkan tren penurunan dalam dua tahun terakhir.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Morut, tercatat kasus HIV/AIDS sepanjang Januari – Desember 2024 terdapat 34 kasus, terdiri dari 31 laki-laki dan 3 perempuan. Sementara itu, hingga November 2025, jumlahnya semakin menurun menjadi 30 kasus, dengan rincian 25 laki-laki dan 5 perempuan.

Penurunan ini menjadi sinyal positif, bagi upaya pencegahan dan pengendalian kasus HIV/AIDS di daerah ini. Meski demikian, Dinkesda Morut menilai potensi penularan masih cukup tinggi, di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat, terutama banyaknya kunjungan dari luar daerah.

Peningkatan mobilitas tersebut, bisa berdampak bertambahnya kelompok berisiko yang harus mendapat pemantauan. Kondisi ini tentunya membuat upaya pencegahan, harus terus diperkuat agar angka kasus tidak kembali melonjak.

Salah satu langkah yang kini gencar dilakukan, adalah peningkatan skrining HIV di seluruh Puskesmas. Pemeriksaan tersebut menyasar sejumlah kelompok rentan, seperti ibu hamil, pasien tuberkulosis (TBC), pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), Wanita Pekerja Seks (WPS), warga binaan Lapas, waria, pengguna narkoba, serta Lelaki Suka Lelaki (LSL).

Plh Kabid P2P Dinkesda Morut, Vindus Kalvari Galela, kepada media ini, Rabu (03/12/2025), menegaskan, pentingnya perubahan perilaku untuk menekan penularan.

“ Kami mengimbau para kaula muda untuk tidak melakukan hubungan seks secara bebas. Bagi pasangan yang sudah menikah, penting untuk menggunakan alat kontrasepsi, agar resiko penularan bisa diminimalisir dengan baik,” tegas Vindus Kalvari, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, bahwa Dinkesda Morut juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat, tentang pentingnya untuk deteksi dini. Kata dia, selain memutus mata rantai penularan, skrining dini dianggap membantu pasien mendapatkan penanganan cepat dan tepat.

“Upaya kolaborasi lintas sektor turut digiatkan. Puskesmas, Pemerintah Kecamatan, hingga lembaga sosial diminta memperkuat sosialisasi, agar masyarakat tidak ragu untuk memeriksakan diri, ” katanya. (*)

Loading