Bitung- Ratusan warga Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari melakukan aksi demo di depan PT Futai, menuntut perusahaan pengolahan kertas bekas tersebut ditutup pada, Jumat (19/6/2026).
Warga mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas dengan menutup aktifitas perusahaan asal China tersebut, karena menurut warga, akibat dari produksi PT Futai, lingkungan, sungai dan lainnya tercemar oleh limbah perusahaan tersebut. Tidak hanya itu, polusi udara yang menimbulkan bau yang menyengat setiap hari menjadi alasan warga.
“Kami minta PT Futai Ditutup. Sudah cukup penderitaan kami selama bertahun-tahun harus menghirup udara yang busuk, yang mengakibatkan kesehatan kami terganggu. Belum lagi sungai, ikan peliharaan dan tanaman kami yang rusak dan mati akibat limbah PT Futai yang dibuang disungai secara sembarang,” koar orator Joudy Wawoh.
Warga lainnya juga meminta agar pimpinan perusahaan untuk keluar menemui mereka dan memberikan penjelasan. Namun permintaan warga tersebut tak mendapat respon, warga pun mencoba menerobos blokade polisi untuk masuk kedalam area perusahaan sambil membakar ban bekas didepan perusahaan tersebut.
- Bupati Michael Thungari Resmikan Ruas Jalan Lesabe -Bukide Kecamatan Tabukan Selatan
- Terima Delegasi Uni Eropa di Wisma Negara Bumi Beringin, Gubernur Yulius Paparkan Ekonomi Biru Sulut
- LPM Kota Tomohon Matangkan Pelantikan Pengurus 5 Kecamatan dan 44 Kelurahan, Arnold Poli: Kepengurusan Kami Sah dan Legal
“Sudah lama kami berjuang. Mulai rapat di DPRD Bitung hingga DPRD Provinsi, tidak ada hasil. Semua tetap sama. Kami tetap jadi korban limbah PT Futai. Jangan salahkan kami jika kami harus tutup jalan supaya tidak ada kontainer yang lewat, jika tuntutan kami tidak diindahkan,” tegas Arnold Ticoalu.
Sementara itu, Elsye Lengkong selaku ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Tanjung Merah menegaskan, masyarakat pada prinsipnya tidak menolak kehadiran investor. Namun harus mampu menjaga kondisi lingkungan dan pengolahan limbah, supaya tidak mencemarkan lingkungan.
“Sejak 2021 kami berjuang. Kami jadi korban polusi dan limbah PT Futai. Setiap hari kami dipaksa menghirup udara busuk. Lansia, anak-anak dan kami semua harus jadi korban. Laut kami tercemar. Sungai kami juga. Oleh karenanya kami minta perusahaan memperharikan hal ini. Silahkan berinvestasi, tapi jangan korbankan kami masyarakat,” tegas Lengkong.
Pantauan dilapangan, tak puas dengan aksi sambil berorasi dan bakar ban bekas didepan perusahaan, ratusan warga melakukan penutupan jalur air yang mengarah ke PT Futai. “Jalur air sungai ini terpaksa kami tutup, karena PT Futai seenaknya ambil air secara gratis, dan kami yang jadi korban,” tambah Wawoh. (hzq)






