Minut-Puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara, memiliki makna berbeda.
Tradisi lomba “Rampasan” bukan hamya menjadi tontonan meriah, tetapi juga penegasan kembali nilai gotong royong masyarakat Minahasa.
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, yang hadir langsung menutup rangkaian kegiatan tersebut menekankan bahwa kemerdekaan tidak boleh hanya dimaknai dengan seremoni semata.

- Resmikan Kampung RA Dan Pemberdayaan Wakaf Produktif di Pekalongan, Sahli ATR/BPN Harapkan Kesejahteraan Masyarakat Terwujud
- Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Kolaborasi PLN UID Suluttenggo dan Pemprov Sulut Bersihkan Kawasan Malalayang Beach Walk
- Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: PLN UP3 Kotamobagu Perkuat Budaya Clean Energy Day Lewat Gerakan 1 Hari Tanpa BBM
Menurutnya, filosofi di balik lomba Rampasan adalah cerminan perjuangan yang membutuhkan kebersamaan. Senin (18/8/2025).
“Untuk mencapai puncak tidak bisa dilakukan sendiri. Harus bersama-sama. Inilah semangat mapalus, semangat gotong royong, yang harus terus hidup di tengah masyarakat,” tegas Bupati Joune.
Ia menambahkan, kegiatan yang penuh antusiasme itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan sejati hanya dapat diisi degan kerja sama dan saling menopang.
“Dengan gotong royong, saya yakin Desa Kaima, bahkan Minahasa Utara, akan semakin diberkati dan sejahtera,” ujarnya.
Sebelum menutyp secara resmi rangkaian HUT ke-80 RI, Bupati Joune sekaligus membuka lomba Rampasan dan berpesan agar para peserta tetap menjunjng sportivitas serta menjaga keselamatan.
“Selamat kepada panitia, Ibu Kumtua, dan seluruh warga. Semoga kegiatan ini terus menjadi warisan nilai kebersamaan kita,” tandasnya.
Tradisi Rampasan pun menjadi penutup yang penuh filosofi bagi rangkaian panjang perayaan kemerdekaan di Desa Kaima. (T3)









