Bitung, Redaksisulut – Ketua Umum DPP GMNI Arjuna Putra Aldino hadir dalam acara diskusi bedah buku *Moving Forward: Memahami Revolusi Mental dan Politics of Hope Dalam Kepemimpinan Aksi Nyata dan Tata Kelola Pemerintahan ODSK* di Grand Puri Hotel, Manado. Rabu, (25/11/2020).
Diundang sebagai narasumber, Ketua Umum DPP GMNI saat dikonfirmasi menyampaikan perlunya kepemimpinan ODSK membongkar oligarki perdagangan cengkeh yang selama ini merugikan petani cengkeh di Sulawesi Utara.
“Yang perlu menjadi fokus dari kepemimpinan ODSK yaitu membongkar oligarki perdagangan cengkeh di Sulawesi Utara. Oligarki inilah yang selama ini menindas petani”. Tutur Arjuna.
Ketua Umum DPP GMNI memaparkan sejarah Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) yang dipimpin langsung oleh Tommy Soeharto yang memonopoli perdagangan cengkeh dengan tujuan membeli cengkeh dengan harga yang sangat murah di petani sehingga petani dirugikan.
- Perkuat Kebersamaan Dimomen HUT RI Ke 81, Polres Bitung Gelar Olahraga Bersama Bhayangkari
- Mendengarkan Pidato Presiden Dalam Rangka HUT RI Ke 71, DPRD Bitung 2 Kali Gelar Paripurna Dalam Sehari
- Jalin Kerja Sama Dengan RSUD Bitung, Yayasan Rumah Lukaku Indonesia Lakukan Pemeriksaan Mata Dan Kitanan Gratis
“Kawan-kawan jangan lupa pertanian cengkeh di Sulawesi Utara pernah dirusak oleh BPPC bentukan Orde Baru, yang bekerja seperti VOC, memonopoli cengkeh dan mengeksploitasi petani. Ini harus dilawan”. Lanjutnya.
Ketua Umum DPP GMNI mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara yang berjuang menghapus Pajak Pertambahan Nilai (PPn) hasil pertanian yang dikenakan pemerintah pusat. PPn ini cukup membebani petani.
“Pemprov Sulut sudah mencoba berjuang menghapus PPn hasil pertanian yang notabene raw material dan menjadi tumpuan nasib jutaan petani di Minahasa. Kita dukung dan apresiasi”. Papar Ketua Umum DPP GMNI.
Di akhir penyampaiannya, Ketua Umum DPP GMNI berpesan agar mahasiswa bersikap kritis ditengah perhelatan pemilihan Kepala Daerah yang tangah berlangsung. Ketua Umum DPP GMNI berpesan jangan sampai rezim yang berkuasa ke depan di Sulawesi Utara justru menjadi aktor yang terlibat mengeksploitasi petani cengkeh dimana cengkeh dalam sejarahnya menjadi primadona dan tumpuan nasib masyarakat di tanah Minahasa.
“Kita mahasiswa harus kritis. Jangan sampai rezim yang berkuasa di Sulut justru menjadi aktor utama yang mengeksploitasi petani cengkeh. Tugas mahasiswa melakukan advokasi dan penyadaran”. Tutup Arjuna. (Wesly)






