Minut-Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara menggelar sosialisasi implementasi keprotokolan dan tata upacara yang menghadirkan narasumber Drs. Jackson F. Ruaw, M.Si, Rabu (20/5/2026).
Dalam pemaparannya, Jackson Ruaw menegaskan bahwa keprotokolan tidak hanya dipahami sebagai urusan teknis acara atau tata tempat semata, melainkan menjadi bagian penting dalam menjaga kewibawaan pemerintahan dan kualitas pelayanan publik.
Menurutnya, pelaksanaan keprotokolan yang baik mampu menciptakan kegiatan pemerintahan yang tertib, profesional, terukur, dan bermartabat.
“Keprotokolan merupakan instrumen strategis dalam menjaga marwah institusi pemerintah. Dari tata penghormatan, pengaturan acara hingga pelayanan tamu negara dan pejabat, semuanya mencerminkan kualitas tata kelola pemerintahan,” ujar Ruaw di hadapan peserta sosialisasi.
- Desa Ciparungsari Gelar FGD Penetapan Status Indeks Desa Tahun 2026 untuk Dorong Pembangunan Berkelanjutan
- Sekwan Niklas Silangen Menghadiri Pencanangan Peringatan HUT RI Ke-81 Dan HUT Provinsi Ke-62 : Bersama Gubernur Fun Game Mini Soccer Melawan Tim Kodam XIII Merdeka
- Jelang Hari Kemerdekaan ke-81 RI, PLN UP3 Tahuna Gelar Apel dan Inspeksi Peralatan Guna Pastikan Keandalan Listrik Kepulauan Nusa Utara
Ia menjelaskan, fungsi keprotokolan memiliki peran besar dalam menjamin kelancaran kegiatan pemerintahan, memperkuat koordinasi antar lembaga, hingga membangun citra positif pemerintah di mata masyarakat.
Jackson juga menyoroti tantangan yang masih sering terjadi di lapangan, mulai dari belum seragamnya standar operasional prosedur (SOP), lemahnya koordinasi antar panitia kegiatan, hingga minimnya pemanfaatan teknologi digital dalam sistem keprotokolan modern.
Akibatnya, kata dia, masih ditemukan pelaksanaan kegiatan resmi yang tidak tertib, perubahan susunan acara tanpa koordinasi, kesalahan tata tempat, serta penggunaan atribut yang tidak sesuai aturan.
“Kalau protokol tidak berjalan baik, dampaknya bukan hanya pada acara, tetapi juga pada citra institusi. Kepercayaan publik bisa ikut terpengaruh,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Ruaw turut mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang keprotokolan melalui pelatihan berkelanjutan, sertifikasi, serta penguatan budaya disiplin di lingkungan pemerintahan.
Ia juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi, termasuk penerapan sistem digital dan dukungan kegiatan hybrid maupun virtual dalam pelaksanaan acara resmi pemerintahan.
“Ke depan, keprotokolan harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Profesionalisme, etika, disiplin, dan kemampuan komunikasi menjadi kunci utama,” katanya. (*)








