Sulut – Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw mendukung WHO bahwa dalam situasi saat ini, saat berinteraksi kita menjaga jarak fisik tetapi masyarakat Sulut hendaknya tetap terhubung lewat media sosial.
“Meskipun jarak terbatas, tetapi tidak terisolasi sosial. Bahkan mari kita jadikan media sosial sebagai wahana untuk saling memberikan support dan saling membantu memberikan informasi yang benar dan solusi untuk kebaikan. Demi kemanusiaan, situasi dan kondisi ini merupakan momentum yang tepat bagi segenap warga Sulawesi Utara bersama seluruh anak bangsa Indonesia dan seluruh manusia dibelahan dunia untuk menebar kabaikan dan bersatu melawan pandemi covid 19. Kita bersatu hati, lupakan perbedaan dan bergandengan tangan bersama dimampukan melewati semua ini dengan tetap berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujarĀ Gubernur Olly didampingi Wagub Kandouw.
Diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi mendorong penggunaan frasa physical distancing yang berarti menjaga jarak fisik.
WHO menyarankan penggunaan frasa ini daripada istilah social distancing (menjaga jarak sosial).
- Hearing Komisi III DPRD Sulut : Warga Tuntut Akses Jala Baru Dapat Digunakan, PT MSM Janji Perbaiki Jalan Eksisting Milik BPJN
- Bupati FDW Pimpin Rapat Bersama Forkopimda Minsel, Bahas Berbagai Isu Terkini
- Momen Idul Adha 1447 H, PLN Tingkatkan Jam Operasi Listrik Pulau Paku Menjadi 18 Jam: Dorong Ekonomi Kepulauan di Morowali
Seperti dikutip dari Reuters, WHO mengubah frasa untuk merekomendasikan jarak fisik daripada jarak sosial untuk mendorong masyarakat agar tetap terhubung melalui media sosial.
Menurut WHO, gagasan pengubahan itu adalah untuk menjernihkan pemahaman bahwa perintah untuk tetap di rumah selama wabah virus corona jenis baru (COVID-19) saat ini bukan tentang memutuskan kontak dengan teman dan keluarga, tetapi menjaga jarak fisik untuk memastikan penyakit itu tidak menyebar.
Untuk itu, WHO menjelaskan bahwa langkah menjaga jarak fisik dan mengkarantina diri bila sakit memang baik untuk menahan penyebaran COVID-19.
Namun, itu bukan berarti membuat orang-orang menjadi terisolasi secara sosial. Masyarakat tetap perlu melakukan interaksi sosial, terutama dengan memanfaatkan teknologi informasi dan menggunakan media sosial. (JM)






