Minsel-Naiknya harga beras tidak dapat dibendung oleh pemerintah sehingga dampak negatifnya langsung dirasakan masyarakat dari semua kalangan.
Kabupaten Minahasa Selatan memiliki beberapa desa yang biasa dikatakan sebagai lumbung padi atau memiliki lahan persawahan yang luas dan dapat mendongkrak kebutuhan masyarakat dengan harga beras yang sangat terjangkau.
Saat ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa persawahan di kabupaten Minahasa Selatan. Makin kecil dan minat menanam padi bagi petani hampir punah, pasalnya berhektar-hektar lahan persawahan di telah di sulap menjadi perkebunan buah semangka dan melon.
Bagi petani yang notabene hanya menyewah lahan persawahan kehilangan tempat lahan sebagai petani Padi karena harga sewa telah dinaikan oleh pemilik lahan akibat ada persaingan dengan petani buah semangka.
- Dampingi Wapres Gibran di Perkemahan Pemuda GPdI, Gubernur Yulius Tuai Apresiasi Atas Capaian Prestasi Pembangunan Sulut
- Dualisme Nasdem Bitung, Wenas Pastikan Longkutoy Gantikan Supit Usai Bertemu Surya Paloh
- Bupati Michael Thungari Membuka Kegiatan Pencanangan Dan Penandatangan Komitmen Bersama Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Sangihe
Hal ini berdampak pada mahalnya harga beras di pasaran yang mencapai Rp 15.000 sampai Rp.20.000, ini tentunya sangat membuat masyakat menjadi kesulitan.
Disisi lain naiknya harga beras akan berdampak bagi pelaku-pelaku usaha lain seperti kios makanan sampai ke restoran dan tentunya akan mengarah ke konsumen.
Fenomena ini membutuhkan perhatian pemerintah baik di kabupaten/kota, propinsi maupun pemerintah pusat. (*/Onal M)








