Minut-PT Minahasa Cahaya Lestari melalui Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sulut-3 di Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, menjadi salah satu pemasok utama energi listrik bagi wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo (Sulutenggo). Pembangkit berkapasitas 2×50 megawatt ini menyuplai sekitar 30 persen kebutuhan listrik di sistem Sulutenggo.
Kontribusi tersebut menjadikan PLTU Sulut-3 sebagai salah satu penopang penting dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan regional yang memiliki beban puncak sekitar 400 megawatt.
PLTU yang berlokasi di Desa Kema I, Jaga 8 itu mulai beroperasi sejak 2021 dan bekerja sama dengan PLN melalui skema kontrak jangka panjang selama 25 tahun.
Operasional pembangkit sepenuhnya mengikuti kebutuhan beban yang diatur dalam sistem kelistrikan PLN.
Eksternal Relation PT Minahasa Cahaya Lestari, Kenedy Batubuaya, menjelaskan energi listrik yang dihasilkan PLTU Sulut-3 tidak disalurkan secara khusus ke wilayah sekitar pembangkit, tetapi masuk ke sistem interkoneksi Sulutenggo secara menyeluruh.
“PLTU ini tidak hanya melayani Kema atau Minahasa Utara, tetapi menyuplai seluruh sistem Sulutenggo. Distribusi listrik diatur oleh PLN sesuai kebutuhan dan kondisi jaringan,” kata Kenedy.
Ia menegaskan keberadaan pembangkit listrik di suatu wilayah tidak secara otomatis menjamin daerah tersebut terbebas dari pemadaman listrik.
Menurutnya, pemadaman bisa terjadi akibat berbagai faktor teknis di jaringan distribusi maupun proses pemeliharaan sistem kelistrikan.
“Gangguan bisa terjadi di jaringan distribusi, pemeliharaan, atau faktor lain di sistem PLN. Jadi keberadaan pembangkit di suatu daerah tidak otomatis menjamin wilayah itu bebas dari pemadaman,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Eksternal Relation PT Minahasa Cahaya Lestari lainnya, Fian Rondonuwu. Ia menjelaskan peran perusahaan berada pada sisi penyediaan daya, sedangkan pengaturan distribusi listrik kepada pelanggan sepenuhnya menjadi kewenangan PLN.
“Posisi kami adalah sebagai pemasok energi ke sistem. Untuk distribusi hingga ke rumah-rumah pelanggan, itu merupakan bagian dari pengelolaan jaringan oleh PLN,” jelasnya.
Dalam operasionalnya, PLTU Sulut-3 Kema didukung 17 menara transmisi dan mengonsumsi batu bara sekitar 30 ribu hingga 40 ribu ton setiap bulan, bergantung pada kebutuhan beban listrik dalam sistem Sulutenggo.
Selain menjalankan fungsi utama sebagai pemasok energi, perusahaan juga aktif melaksanakan berbagai program tanggung jawab sosial (CSR). Program tersebut antara lain penanganan stunting, penyediaan layanan transportasi gratis bagi warga, renovasi rumah ibadah, hingga pemberian beasiswa kepada pelajar.
Di bidang lingkungan, pengelolaan limbah juga dilakukan sesuai ketentuan melalui pemanfaatan Fly Ash and Bottom Ash (FABA) menjadi material bangunan seperti batako dan paving block yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Dengan kontribusi signifikan terhadap sistem kelistrikan regional, PLTU Sulut-3 Kema tetap menjadi salah satu infrastruktur energi strategis yang menopang keandalan pasokan listrik di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo. (T3)















