Minut-Di tengah kemajuan zaman dan gempuran modernisasi, Minahasa Utara menunjukkan komitmennya menjaga warisan leluhur. Pacuan Roda Sapi, tradisi budaya khas Tanah Tonsea, kembali menggema di Likupang Tourism Festival (LTF) 2025 dan menyita perhatian ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Digelar di kawasan Pantai Pal Likupang pada 29–31 Mei 2025, lomba tradisional ini bukan sekadar hiburan, tapi sebuah pertunjukan budaya yang menghidupkan kembali identitas lokal masyarakat Minut. Setiap derap roda dan pekikan penonton seolah menjadi pengingat bahwa tradisi ini masih hidup dan dihargai.
Sorak sorai meledak saat rit pertama dimulai, menyatu dengan semangat penonton yang datang dari Minut, Manado, hingga berbagai wilayah Indonesia. Beberapa kepala daerah peserta Munas VI APKASI bahkan ikut berhenti sejenak dari kegiatan fun walk untuk menyaksikan langsung tontonan langka ini.
Ketua Panitia LTF, Edwin Rimporok, menyebut pacuan roda sapi sebagai lambang keteguhan masyarakat Minahasa Utara menjaga jati diri budayanya.
“Ini bukan sekadar perlombaan, tapi bentuk nyata bahwa budaya kita tetap eksis di tengah arus globalisasi. Pacuan roda sapi adalah warisan leluhur yang terus kami lestarikan,” ungkap Edwin penuh kebanggaan.
Ia juga menambahkan, antusiasme penonton menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat terhormat dalam masyarakat.
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, tampak antusias menyaksikan pacuan tersebut. Ia berjalan kaki sekitar 500 meter dari panggung utama hanya untuk tiba di arena pacuan, dan menyebut tradisi ini sebagai salah satu kekayaan budaya yang tak ternilai.
“Pacuan roda sapi adalah bagian dari identitas kita. Ini budaya yang membentuk karakter dan kebanggaan masyarakat Minut. Saya sangat berterima kasih kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini,” kata Joune.
Ia memastikan bahwa Pemkab Minut akan terus mendukung pelestarian budaya lokal, termasuk dengan rencana mengemas pacuan roda sapi menjadi event berskala regional se-Sulawesi.
“Budaya adalah fondasi pembangunan yang kokoh. Tanpa budaya, kita kehilangan arah,” tegas Joune yang juga berkesempatan menyerahkan piala kepada para juara lomba.
LTF 2025 bukan hanya panggung wisata, tapi juga arena pelestarian budaya. Pacuan roda sapi telah membuktikan bahwa tradisi bukan barang usang, melainkan kekuatan yang mampu mengikat masyarakat dalam rasa bangga dan cinta terhadap tanah leluhur. (T3/*)









