Minut-Di tengah hangatnya Munas VI Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yang digelar di Minahasa Utara. Jumat (30/5/2025), sebuah momen tak terduga sekaligus menyentuh terjadi.
Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai calon kuat Ketua Umum APKASI, justru memilih langkah sebaliknya, ia mundur dari pencalonan.
Keputusan ini bukan karena kekurangan dukungan. Justru sebaliknya, arus dukungan mengalir deras kepadanya. Namun, bagi Joune, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling dielu-elukan, melainkan siapa yang paling mampu menjaga harmoni dan menghormati proses.
“Saya melihat Pak Bursah Zarnubi lebih senior, maka kita harus menghargai mereka yang lebih senior. Mari kita menghormati orang yang lebih tua dari kita,” ucapnya dengan tenang, namun penuh makna. Di hadapan para kepala daerah dari seluruh Indonesia, kata-kata Joune menggema sebagai refleksi dari keteladanan.
- Bupati FDW Apresiasi Jajaran Polres Minsel Dalam Lakukan Pembinaan Melalui Program Polisi Cilik dan Patroli Keamanan Sekolah
- RSUD Kolonodale Jalani Kredensial BPJS, Layanan CT Scan Segera Hadir di Morut
- PLN Goes To You: Semarakkan Hari Pelanggan Nasional 2026, PLN UP3 Gorontalo Hadir Menyapa Pelanggan
Ia menegaskan, menjadi Ketua Umum bukanlah tentang mencari panggung, tetapi tentang kesiapan untuk mengabdi. Setelah merenung mendalam, Joune memilih mendukung Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, yang ia anggap lebih layak secara pengalaman dan senioritas.
“APKASI adalah rumah bersama bagi kita para pemimpin daerah. Rumah ini harus dijaga dengan semangat kebersamaan, bukan persaingan,” ujar Joune.
Di tengah era politik yang sering kali diwarnai ambisi dan perebutan posisi, sikap Joune Ganda menjadi oase. Ia menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukan hanya mampu memimpin, tapi juga tahu kapan harus menyingkir untuk memberi jalan kepada yang lain demi tujuan yang lebih besar.
Langkah bijak Joune Ganda di Munas VI APKASI bukan hanya menghindarkan organisasi dari potensi perpecahan, tetapi juga mempertegas visinya tentang kepemimpinan yang inklusif dan berjiwa besar.
Dalam diamnya keputusan itu, publik melihat sebuah suara keras, bahwa politik bisa tetap beretika, dan kepemimpinan sejati selalu berpihak pada kepentingan bersama. (T3/*)







