Delapan Jembatan Dibangun Dalam Tiga Bulan, TNI Buka Ruang Usulan Warga

oleh -1154 Dilihat

Minut-Akses masyarakat di sejumlah wilayah terus diperkuat melalui program pembangunan Jembatan Perintis Garuda. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan, sedikitnya delapan jembatan telah berhasil dibangun, salah satunya Jembatan Perintis Garuda di Desa Kokoleh Satu, Kecamatan Likupang Selatan, Kabupaten Minahasa Utara.

Keberadaan jembatan tersebut dinilai bukan sekadar menyelesaikan persoalan infrastruktur, tetapi menjadi akses vital yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Dandim 1310/Bitung, Letkol Inf I Dewa Made Dharmawan Juniarta, saat menghadiri peresmian Jembatan Perintis Garuda di Desa Kokoleh Satu, Rabu (2/9/2026).

Menurut Dewa Made, keberhasilan pembangunan jembatan tidak cukup diukur dari rampungnya pekerjaan fisik. Lebih dari itu, ukuran utamanya adalah seberapa besar akses tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat. “Sudah terbangun delapan, kurang lebih ada tiga bulan,” ujar Dewa Made.

Ia menegaskan, pembangunan jembatan melalui program tersebut belum berhenti. Pada tahap berikutnya, direncanakan pembangunan sekitar empat jembatan tambahan di wilayah yang dinilai membutuhkan akses.

Penentuan lokasi akan dilakukan melalui koordinasi antara jajaran TNI dan pemerintah daerah. Salah satu langkahnya dengan meminta data dari Dinas Pekerjaan Umum terkait wilayah yang membutuhkan pembangunan jembatan.

Namun, Dewa Made menegaskan masyarakat juga memiliki ruang untuk menyampaikan langsung kebutuhan infrastruktur di wilayah mereka.

“Kalau masyarakat juga bisa memberikan masukan kepada kami, kita bisa survei sama-sama,” katanya.

Menurutnya, masyarakat merupakan pihak yang paling memahami kondisi di lapangan, termasuk titik-titik yang selama ini menjadi kendala dalam mobilitas warga.

Meski demikian, setiap usulan tidak serta-merta menjadi lokasi pembangunan. Usulan tersebut tetap harus melalui proses pendataan dan survei untuk memastikan kondisi medan, tingkat kebutuhan, serta urgensinya.

Dewa Made menjelaskan, pembangunan jembatan dalam program tersebut tidak menggunakan satu jenis konstruksi. Bentuk jembatan disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat.

“Di sini kan ada empat yang gantung, ada dua rangka, ada dua beton,” jelasnya.

Ia menilai, keberadaan delapan jembatan yang telah dibangun menunjukkan bahwa program tersebut diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar pembangunan fisik.

Karena itu, TNI bersama pemerintah daerah akan terus melakukan pemetaan kebutuhan di lapangan agar pembangunan tahap selanjutnya benar-benar menyasar wilayah yang paling membutuhkan.

Masyarakat yang mengetahui adanya wilayah dengan kebutuhan akses jembatan juga dipersilakan menyampaikan informasi kepada pemerintah daerah maupun jajaran TNI. Informasi tersebut selanjutnya akan didata dan diverifikasi melalui survei bersama.

Dengan mekanisme tersebut, pembangunan diharapkan tidak hanya bertumpu pada usulan administratif, tetapi juga berdasarkan kondisi faktual di lapangan serta besarnya manfaat yang akan diterima masyarakat.

Peninjauan Jembatan Perintis Garuda sendiri dihadiri oleh Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda bersama jajaran juga Hukum Tua Desa Kokoleh Satu Adner Salmon Natan. (T3)

No More Posts Available.

No more pages to load.