Minut-Ancaman terhadap ekosistem laut di wilayah pesisir Minahasa Utara kian nyata. Dugaan pencemaran limbah dari PT Kether Coco Bio yang mengalir melalui sungai di Desa Tontalete kini menjadi perhatian serius masyarakat, terutama karena aliran air itu bermuara langsung ke laut Kema.
Hukum Tua Desa Tontalete, Justus Watuna, membenarkan keluhan warga terkait kondisi air sungai yang keruh dan diduga tercemar limbah industri. Ia menyebut, dampak paling signifikan dirasakan oleh warga Jaga 6 yang tinggal di sekitar aliran sungai.
“Keluhan itu benar adanya. Ada dokumentasi foto yang menunjukkan kondisi aliran limbah. Hingga saat ini, air masih tampak keruh,” ujar Justus, Kamis (7/8/2025).
Lebih jauh, Justus mengingatkan potensi dampak jangka panjang terhadap ekosistem laut di Kema jika situasi ini terus dibiarkan.
- Wabub Tendris Bulahari Hadiri Perayaan HUT Ke – 168 Jemaat Gmist Sion Sawang Jauh Kecamatan Tabukan Utara
- TPID Sulut Gelar Gerakan Pangan Murah di Kotamobagu, Harga Cabe Rawit di Jual Rp.57 Ribu Per Kilogram
- Pemerintahan AARS Lagi-lagi Tuai Prestasi Nasional, Manado Juara II Kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah
“Aliran sungai itu langsung ke laut. Kalau tidak segera ditangani, bisa membahayakan biota laut dan nelayan yang menggantungkan hidup di sana,” tegasnya.
Faktanya, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen PT Kether Coco Bio belum memberikan keterangan resmi.
Adapun wartawan yang mendatangi lokasi perusahaan hanya diarahkan untuk menghubungi bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia atas nama Deiby. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp telah terkirim namun belum mendapat respons.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan investigasi serta memastikan penanganan limbah dilakukan sesuai dengan standar lingkungan yang berlaku. (T3)






