Opini-Ekologi bukan sekadar kajian ilmiah tentang hubungan makhluk hidup dengan lingkungannya, melainkan cermin relasi mendalam antara alam, manusia, dan Tuhan. Krisis lingkungan yang terjadi hari ini mulai dari perubahan iklim, deforestasi, hingga pencemaran menunjukkan bahwa relasi tersebut sedang berada dalam kondisi timpang. Alam tidak lagi diperlakukan sebagai ruang hidup bersama, melainkan sebagai objek eksploitasi tanpa batas.
Dalam banyak tradisi keagamaan, alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki nilai intrinsik. Gunung, laut, hutan, dan seluruh isinya bukan sekadar sumber daya ekonomi, tetapi juga tanda kehadiran Ilahi. Ketika manusia merusak alam, sejatinya ia tidak hanya melanggar hukum ekologis, tetapi juga mengabaikan tanggung jawab moral dan spiritual sebagai makhluk yang diberi amanah untuk menjaga ciptaan Tuhan.
Manusia menempati posisi unik dalam relasi ekologis ini. Dengan akal dan teknologi, manusia memiliki kemampuan besar untuk mengelola alam, namun juga potensi yang sama besar untuk menghancurkannya. Paradigma pembangunan yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak atas alam telah melahirkan ketimpangan ekologis. Keserakahan, atas nama kemajuan, sering kali mengalahkan kebijaksanaan dan kehati-hatian.
Sejatinya, ekologi mengajarkan prinsip keterhubungan. Kerusakan hutan di satu wilayah berdampak pada iklim global pencemaran sungai berujung pada krisis pangan dan kesehatan manusia. Alam tidak pernah berdiri sendiri, demikian pula manusia. Mengabaikan keseimbangan ekologis berarti menyiapkan bencana bagi generasi kini dan mendatang.
Dalam konteks ini, kesadaran ekologis perlu dimaknai sebagai bagian dari kesadaran spiritual. Merawat alam adalah bentuk ibadah sosial yang konkret, bukan sekadar wacana moral. Menghemat energi, mengurangi sampah, dan melindungi keanekaragaman hayati merupakan ekspresi tanggung jawab manusia kepada Tuhan dan sesama makhluk hidup.
Peran negara dan masyarakat menjadi krusial dalam membangun etika ekologis yang berkelanjutan. Kebijakan publik harus berpihak pada kelestarian lingkungan, bukan semata pada pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Di sisi lain, masyarakat perlu menghidupkan kembali kearifan lokal yang selama ini terbukti selaras dengan alam, namun kerap terpinggirkan oleh logika modernitas.
Pada akhirnya, ekologi mengingatkan bahwa hubungan antara alam, Tuhan, dan manusia adalah hubungan yang sakral dan tak terpisahkan. Krisis lingkungan sejatinya adalah krisis relasi—antara manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya. Hanya dengan memulihkan relasi tersebut, manusia dapat menemukan kembali makna keberadaannya sebagai penjaga, bukan perusak, bumi yang menjadi rumah bersama. ***








