Derai Air Mata dan Doa di Balik Ketidakhadiran : Keluarga Pdt Hein Arina Rayakan HUT ke-61 dengan Hati yang Kuat

Tomohon-Di tengah luka batin yang belum pulih, keluarga besar Pdt Hein Arina menggelar ibadah syukur sederhana namun penuh makna untuk memperingati ulang tahun ke-61 sang ayah, gembala, dan panutan mereka, Selasa (27/5/2025).

Meski tanpa kehadiran fisik sosok yang dirayakan, cinta dan doa melingkupi perayaan yang berlangsung di ABI Convention Hall Bukit Inspirasi Tomohon.

Pdt Hein Arina, Ketua Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM, saat ini tengah menjalani masa tahanan di Rutan Polda Sulawesi Utara terkait kasus dugaan penyimpangan dana hibah GMIM.

Namun, di tengah situasi sulit itu, anak-anak, menantu, cucu, dan istri tercinta tetap memilih untuk merayakan momen ulang tahun sebagai bentuk dukungan, kasih, dan harapan akan pemulihan.

Momen syukur ini juga dirangkaikan dengan perayaan ulang tahun ke-58 Pdt Joice Sondakh, Wakil Ketua Bidang Pekerja GMIM dan Pelayan Khusus BPMS, yang lahir di tanggal yang sama dengan Pdt Hein Arina. Dua kue ulang tahun menjadi simbol doa dan cinta dalam kebersamaan yang diuji waktu.

Suasana berubah haru ketika Penatua Kristi Karla Arina, anak pertama Pdt Hein Arina, berdiri di mimbar menyampaikan ucapan terima kasih. Suaranya bergetar, matanya basah, namun tutur katanya tetap menggambarkan keteguhan hati dan kekuatan doa yang tak henti mereka panjatkan.

“Dalam setiap detik doa kami, selalu ada nama Papi. Kami percaya Tuhan Yesus sedang bekerja, memulihkan, dan memberi kekuatan untuk melalui semua ini,” ujar Kristi sembari menyeka air mata.

Kristi juga menyampaikan pesan sang ayah dari balik jeruji. Pesan itu bukan keluhan, bukan tangisan, melainkan seruan semangat dan pengampunan untuk semua rekan pendeta dan jemaat GMIM. “Gereja harus tetap kuat. Tetap semangat melayani. Dan yang paling penting: belajarlah mengampuni, karena pengampunan adalah bentuk cinta tertinggi,” kutip Kristi dengan suara yang mulai terbata-bata.

Ia juga menggambarkan kontras kehidupan mereka di rumah dengan kondisi sang ayah di tahanan. “Kami tidur nyaman di atas springbed, sementara Papi hanya beralaskan lantai. Tapi Papi tetap bersyukur, dan kami pun belajar menerima dengan iman.”

Kesaksian Kristi menggugah banyak hati yang hadir. Doa-doa mengalir, bukan hanya untuk ulang tahun, tapi juga untuk kekuatan dan pemulihan. Suasana ibadah pun dipenuhi pujian, pelukan hangat, dan lilin yang dinyalakan sebagai lambang harapan baru.

Ibadah ini dihadiri para tokoh gereja, jajaran BPMS, Pelayan Khusus, Ketua BPMJ, serta jemaat yang datang memberi dukungan. Di tengah keterbatasan dan pergumulan, cinta dalam keluarga Arina tetap membara, menjadi saksi bahwa kasih sejati tak tergantung keadaan.

Perayaan ini bukan sekadar ulang tahun. Ia menjadi pernyataan bahwa keluarga dan iman adalah dua hal yang tak akan pernah runtuh, bahkan ketika badai kehidupan datang mengguncang. Sebuah kisah tentang keteguhan hati, pengampunan, dan cinta yang tetap tumbuh, bahkan dari balik jeruji. (T3/*).

Loading