Kekhawatiran kedua negara tersebut, kata Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), ini berdasarkan lambannya pemerintah untuk melakukan lockdown.
Apalagi, Presiden Joko Widodo malah lebih memiliki social distancing maupun physical distancing.
“Langkah Indonesia yang lamban ambil keputusan lockdown, memilih social distancing atau physical distancing telah menimbulkan ketidakpastian. Karena kebijakan itu tidak sepenuhnya memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” jelas Ubedilah.
Tak hanya itu, kata dia, Amerika Serikat merupakan sebab negara besar yang memiliki kepentingan kepada Indonesia. Namun, dengan adanya peringatan tersebut menunjukkan kondisi di Indonesia sangat berbahaya.
- Wabub Tendris Bulahari Hadiri Perayaan HUT Ke – 168 Jemaat Gmist Sion Sawang Jauh Kecamatan Tabukan Utara
- TPID Sulut Gelar Gerakan Pangan Murah di Kotamobagu, Harga Cabe Rawit di Jual Rp.57 Ribu Per Kilogram
- Pemerintahan AARS Lagi-lagi Tuai Prestasi Nasional, Manado Juara II Kategori Implementasi Program 3 Juta Rumah
“Sebagai negara besar, tentu Amerika Serikat punya kepentingan pada Indonesia, tetapi peringatan untuk warga negaranya agar pulang ke Amerika Serikat itu menunjukan betapa berbahayanya kondisi Indonesia saat ini,” terangnya.
Dengan demikian, Ubedilah tak bosan kembali mendesak Presiden Jokowi untuk segera melakukan lockdown agar meminimalisir penyebaran Covid-19 secara masif.
“Kini kuncinya ada pada Jokowi, korban Covid-19 terus berjatuhan. Silahkan ambil keputusan pahit tapi sebentar atau tetap seperti saat ini tetapi penderitaan akan berkepanjangan,” pungkasnya. (*)





