Kolonodale-Menyikapi pertumbuhan ekonomi yang lesu belakangan ini, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Morowali Utara (Morut), menggelar rapat koordinasi (rakor) untuk merumuskan langkah-langkah strategis, sekaligus mencari solusi yang tepat dan terbaik, di ruang pola kantor Bupati Morut, Selasa (22/09/2026).
Rakor tersebut, dihadiri langsung Bupati Morut, Dr dr Delis Julkarson Hehi MARS, Dandim 1311/Morowali, Letkol Inf Boyke Baja Imanuel Sirait MA MMos, Kapolres Morut, AKBP Junaidy Anthonius Weken SIK, Kepala BPS Morowali, Gladius Alfonsus SST, pejabat yang mewakili Kejari, serta para Asisten, Staf Ahli dan sejumlah Pimpinan OPD di lingkup Pemda Morut.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Delis, dalam arahannya, mengharapkan kepada semua pihak bergerak cepat untuk mencari solusi dengan melihat kondisi perekonomian global yang cenderung menurun belakangan ini.
Berkaitan dengan kondisi perekonomian di Morut yang juga mengalami penurunan seperti daerah lainnya, hal ini disebabkan beberapa faktor.
Faktor pertama, kondisi ini dipengaruhi oleh penurunan angka dana transfer daerah dari Pusat. Hal ini mengakibatkan geliat ekonomi, termasuk belanja ril Pemerintah menjadi sangat kecil.
“Dana transfer dari Pusat ini merupakan salah satu penggerak ekonomi di Morut. Selama ini yang membuat Morut bisa melampaui Morowali, bisa peringkat 2 secara ekonomi Nasional bukan hanya dari sektor industri hilirisasi ataupun sektor tambang, tapi karena transfer pusat itu kita gunakan untuk membantu Desa melalui program BKK (Bantuan Keuangan Khusus),” jelasnya.
Melalui BKK tersebut roda perekonomian di desa bergerak, sektor riil UMKM bergerak yang akhirnya memberikan kontribusi secara kumulatif pada pertumbuhan ekonomi Kabupaten.
Faktor kedua, penyebab tersendatnya pertumbuhan ekonomi adalah karena tahun ini sama sekali tidak ada proyek infrastruktur yang dijalankan.
“Yang ada hanya DBH sawit dan juga DAK. Di luar itu tidak ada. Sehingga ini, pasti juga mempengaruhi belanja Pemerintah,” ujar Bupati Delis.
Penyebab ketiga, akibat sektor swasta juga mengalami kontraksi, PT GNI pengurangan lini produksi, sehingga mengakibatkan pengurangan jumlah tenaga kerja yang cukup signifikan.
“PT NNI juga seperti itu, mengalami pengurangan pegawai, sehingga semua ini secara akumulatif berkontribusi pada penurunan pertumbuhan ekonomi,” ungkap orang nomor satu di Morut itu.
Pada rakor tersebut, turut memberikan pemaparan masing-masing Kepala BPS Morowali, Gladius Alfonsus, dan Kepala Dinas PUPR Morut, Destuber Mato’ori ST, dan selanjutnya dilakukan diskusi. (*)





