17 Tahun Mengabdi untuk Masyarakat, Laurens Sigarlaki Tinggalkan Teladan hingga Akhir Hayat

oleh -5 Dilihat

Minut– Pengabdian seseorang tidak berhenti ketika hayatnya berakhir. Karya, keteladanan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan justru menjadi warisan yang akan terus hidup dalam ingatan keluarga maupun masyarakat.

Pesan itulah yang mengemuka dalam lawatan duka Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) di kediaman keluarga Sigarlaki-Tuwo, Desa Pinenek, Kecamatan Likupang Timur, Selasa (3/11/2026) siang.

Bupati Minut Dr. Joune J.E. Ganda, S.E., M.A.P., M.M., M.Si., yang diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Ir. Novly G. Wowiling, M.Si., menyampaikan penghormatan atas perjalanan hidup almarhum Laurens Sigarlaki yang dinilai telah menuntaskan perjalanan hidup dengan penuh pengabdian.

Dalam sambutannya, Wowiling menggambarkan almarhum sebagai sosok yang telah memberikan kontribusi nyata, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun pelayanan di lingkungan gereja.

“Almarhum sangat lengkap, paripurna. Beliau telah menyelesaikan pertandingan hidup dengan amat baik,” ungkap Wowiling.

Menurutnya, keteladanan almarhum tidak hanya terlihat dari kehidupan pribadi, tetapi juga melalui perjalanan pengabdian selama 17 tahun dalam pemerintahan. Dedikasi tersebut menjadi bagian dari rekam jejak yang menunjukkan besarnya perhatian almarhum terhadap lingkungan dan masyarakat.

“Bukan hanya di masyarakat, di gereja pun demikian. Kontribusi almarhum sangat nyata, sebagaimana tertuang dalam riwayat hidupnya,” ujarnya.

Di hadapan keluarga yang berduka, Wowiling juga menyampaikan harapan agar nilai-nilai pengabdian yang telah diwariskan almarhum tidak berhenti pada generasinya. Anak-anak dan cucu diharapkan dapat meneruskan karya serta semangat pelayanan tersebut melalui bidang dan profesi masing-masing.

“Lanjutkan pengabdian almarhum sesuai bidang masing-masing,” pesannya.

Kepergian Laurens Sigarlaki pada usia 78 tahun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Almarhum meninggalkan istri tercinta, Sintje Tuwo, empat orang anak, tujuh cucu, serta seorang cicit.

Namun, di balik kehilangan tersebut, tersimpan warisan kehidupan yang tidak ternilai. Pengabdian selama bertahun-tahun, kontribusi bagi masyarakat, serta pelayanan di gereja menjadi bagian dari jejak yang diharapkan terus dikenang dan dilanjutkan oleh keluarga.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, almarhum bukan sekadar sosok kepala keluarga, tetapi juga pribadi yang telah meletakkan fondasi keteladanan bagi generasi penerusnya. (T3)

No More Posts Available.

No more pages to load.