Tokoh Lintas Agama Kecam Aksi Teror Kelompok MIT di Sigi

PALU -Tindakan keji dan tanpa perikemanusiaan dilakukan oleh Kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) POSO pimpinan Ali Kalora, terhadap empat warga transmigrasi di Dusun Levonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi pada Jumat (27/11/2020), dikecam oleh Tokoh lintas Agama Sulawesi Tengah.

Peristiwa sadis pembunuhan, pembakaran dan penjarahan mendapatkan perhatian seluruh lapisan masyarakat, termasuk para Tokoh lintas Agama di Sulawesi Tengah.

Berita Terkait Konsep Otomatis Pembantaian Satu Keluarga di Sigi Dilakukan Kelompok MIT POSO, 28 November 2020

Menyikapi peristiwa di Lemban Tongoa tersebut, Tokoh lintas Agama di Sulawesi Tengah bertandang ke Polda Sulawesi Tengah, bertemu Kapolda Sulteng Irjen Pol. Drs. Abdul Rakhman Baso, SH, Senin (30/22/2020).

Tokoh lintas Agama dipimpin Ketua FKUB Sulteng Profesor H. Zaenal Abidin, P.hd diterima Kapolda Sulteng di ruang kerjanya. Selain bersilaturahmi juga memberikan dukungan kepada pihak Kepolisian Polda Sulteng, upaya penegakan hukum terhadap pelaku teror yang telah menghilangkan empat nyawa.

Selanjutnya Tokoh lintas Agama juga menyerahkan pernyataan sikap bersama Persatuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injil Indonesia (PGLII), Forum Umat Kristen (FUKRI) Sulteng dan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Sulteng.

Kabidhumas Polda Sulteng Kombes Pol. Didik Supranoto,SIK yang turut mendampingi Kapolda Sulteng, melalui rilis yang dibagikan kepada awak media di Palu, Senin (30/11/2020) mengatakan, Tokoh lintas Agama Sulteng bertemu Kapolda Sulteng, menyampaikan prihatin atas peristiwa di Lemban Tongoa, Sigi.

Selain itu Tokoh lintas Agama membacakan dan menyerahkan pernyataan sikap bersama tertanggal 30 November 2020 yang mereka tanda tangani kepada Kapolda Sulteng,

“Hari ini para Tokoh lintas Agama bersilahturahmi ke Polda Sulteng selain itu juga menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa tragedi Lemban Tongoa Sigi,” terang Kombes Pol. Didik.

Didik juga menjelaskan ada lima point pernyataan sikap bersama PGLII, FUKRI dan FKUB Sulteng atas tragedi Lemban Tongoa Sigi diantaranya, mengharapkan kepada pemerintah dan Institusi terkait dalam hal ini, Gubernur Sulawesi Tengah, Kapolda Sulawesi Tengah dan Danrem 132 Tadulako untuk bisa segera menuntaskan kasus ini sampai tuntas secara transparansi.

Menangkap dan menindak tegas para pelaku sesuai dengan amanah UUD 1945, serta memberikan empati yang bisa meringankan beban keluarga korban.

Berikut meminta kepada Pemerintah agar dapat memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat Sulawesi Tengah, dalam hal beragama dan menjalankan kegiatan keagamaan masing-masing sesuai Pasal 29 UUD 1945.

Terlebih khususnya bagi umat Nasrani yang sebentar lagi akan mengadakan perayaan Natal pada bulan Desember ini.

Selanjutnya bahwa peristiwa di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa bukan bagian dari ajaran Agama manapun dan tidak ada satu ajaran agama manapun yang membolehkan melakukan tindakan kekerasan atau menghilangkan nyawa seseorang.

Dan PGLII, FUKRI, GPID, GKST, BK, GPDI dan KFUB Sulawesi Tengah tetap mengedepankan dan mengembankan Persatuan dan kesatuan, serta persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia lebih khusus di Sulawesi Tengah.

Menghimbau kepada semua pihak untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh peristiwa yang bisa menimbulkan peristiwa baru yang tidak kita inginkan bersama. (John Pampei)

Related posts