PALU – Operasi penumpasan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah sudah berlangsung bertahun-tahun, namun Kepolisian Republik Indonesia, Khususnya Polda Sulteng belum mampu menghabiskan Teroris di Daerah tersebut, bahkan kurun waktu beberapa bulan terakhir MIT kembali membuat ulah di daerah Lembangtongoa, Kabupaten Sigi.
Upaya Polda Sulteng menyelesaikan persoalan MIT juga berkali-kali berganti sandi operasi, mulai dari operasi Maleo hingga operasi Tinombala, sayangnya aksi Terorisme masih saja menghantui masyarakat Sulteng.
Kini Polri sudah menyatakan memperpanjangan operasi tersebut, sandi operasi juga diganti dari operasi Tinombala menjadi Operasi Madago Raya. Operasi Madago Raya sendiri diambil dari bahasa daerah Poso yang artinya baik hati dan dekat dengan rakyat.
Menanggapi perpanjangan operasi dan perubahan sandi operasi tersebut, Ketua Komisi I DPRD Provinsi Sulteng, Sri Indraningsih Lalusu mengatakan, Komisi I akan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Polda Sulteng dan Korem 132 Tadulako pekan depan.
- Gelar Rakor DPK ABPEDNAS Kecamatan Pasawahan, Perkuat Sinergi Dan Peran Strategis BPD Menuju Desa Mandiri
- PT COR Dan PT MPR Serahkan Bantuan, Buat Korban Banjir Dan Longsor di Bungku Utara
- Ketua PWI Sulut Sintya Bojoh Resmi Lantik Terry Wagiu Pimpin PWI Tomohon, Wali Kota: Pers Garda Terdepan Lawan Hoaks dan Majukan Daerah
“Dalam RDP itu Komisi I akan menanyakan semuanya,” ujar Sri Lalusu, Jumat (19/02/2021).
Sri Lalusu belum memberikan tanggapan lebih jauh atas upaya kepolisian menuntaskan MIT tersebut. Dia menunggu momentum RDP untuk menanyakan semuanya.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Sulteng, Wiwik Jumatul Rofi’ah juga demikian, belum memberikan padangannya.
Wiwik masih mencari informasi lebih lanjut terkait upaya Polri dalam menyelesaikan persoalan di Poso tersebut, termasuk alasan memperpanjangan operasi dan mengganti nama sandi operasi dari Operasi Tinombala menjadi operasi Madago Raya. (**/Johnny)






