Jakarta-Warganet Indonesia ramai mengkritik pernyataan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang meminta setiap perempuan melahirkan satu anak perempuan untuk mengantisipasi penurunan angka kelahiran.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional atau BKKBN, Hasto Wardoyo, meluruskan pernyataannya tentang satu perempuan punya satu anak perempuan, yang bikin heboh setelah disalahartikan.
Dia menyatakan tak pernah menyatakan bahwa satu perempuan harus mempunyai satu anak perempuan.
“Aku tidak ngomong kalau satu perempuan wajib punya anak satu perempuan, aku ngomong gak begitu, aku ngomongnya gini rata-rata diharapkan satu perempuan punya anak satu perempuan, rata-rata, lho,” katanya di Magelang, Minggu, 7 Juli 2024.
Ia mengatakan hal tersebut usai menjadi pembicara “Percepatan Penurunan Stunting untuk Menyongsong Generasi Emas 2045” di Magelang.
“Kalau depan rumah saya punya anak perempuan dua, belakang saya gak punya anak perempuan pas sudah,” katanya.
Ia mengatakan tujuan pernyataannya adalah supaya penduduk tumbuh seimbang. “Jadi tugas BKKBN itu menjaga penduduk tumbuh seimbang kalau suatu wilayah itu, satu kelurahan perempuannya 5.000, sepuluh tahun lagi perempuannya tinggal 4.500, pasti penduduk itu berkurang karena yang hamil dan melahirkan itu perempuan,” katanya, seperti di lansir Tempo.co.
“Itulah makna rata-rata, jangan diterjemahkan satu perempuan wajib punya anak satu,” katanya.
Sebagai informasi, menurut laporan Statistik Indonesia 2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), angka perkawinan di Indonesia menurun drastis selama tiga tahun terakhir, yakni 2021-2023. Pada periode tersebut, angka pernikahan di Tanah Air menurun sebanyak dua juta.
Salah satu dampak dari penurunan angka pernikahan itu adalah angka kelahiran. Saat ini, angka kelahiran secara nasional berada pada angka 2,1. Meskipun masih tergolong ideal untuk pertumbuhan populasi penduduk, Hasto mengaku khawatir angka kelahiran terus menurun dalam beberapa tahun ke depan. (***)







