Bitung, Redaksisulut – Organisasi Masyarakat Adat Makatana Minahasa, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Wilayah Sulut, dan Pakasa bentangkan spanduk bertuliskan “GESER JALAN TOL DARI AER UJANG” Jangan biarkan Mata Air diganti Air Mata di Gunung tertinggi Sulut, Gunung Klabat, Minahasa Utara. Kamis, (16/7/2020).
Saat dihubungi Hendro Rompas perwakilan Masyarakat Adat Makatana Minahasa yang pada saat itu bersama kedua rekannya perwakilan dari BPAN Micky Luther dan Marco dari Pakasa ini mengatakan bahwa aksi yang dilakukan ini merupakan usulan untuk menyuarakan perlawanan.
“Mata air untuk siapa? Jalan tol untuk siapa? harusnya hal ini dipertimbangkan lagi oleh Pemerintah”. Katanya.
Rompas juga mengatakan bahwa tulisan dalam spanduk ini digagas Komunitas Sekolah Sungai dimana beberapa waktu lalu bersama-sama dengan kita dalam perlawanan untuk menggeser Aer Ujang.
- Kapolresta Bandung Serahkan Bantuan Untuk Korban Kebakaran di Arjasari
- Semarakkan HUT RI ke-81 dan Berkah Maulid 2026, YBM PLN UP3 Tolitoli Gandeng IDI dan Lanal Gelar Khitanan Sehat Ceria untuk 79 Anak di Galang
- Dukung Pariwisata Global, PLN Siagakan Personel dan Backup Kelistrikan Berlapis di Likupang Tourism Festival 2026
“Aksi ini murni bentuk perlawan terhadap pemerintah yang seenaknya merusak Mata Air di kota Bitung. Bukan hanya “Aer Ujang” yang sementara terancam, ada juga mata air “Batu Papang” di Kelurahan Tendeki yang dilalui jalan tol. Sebenarnya jalan tol dibuat untuk siapa? Tidak ada gunanya jika masih saja merusak mata air”. Tegas Rompas.
Ia juga menambahkan bahwa kami tidak pernah menolak pembangunan, tapi kami siap melawan jika pembangunan hanya bertujuan tuk merusak mata air dan situs-situ budaya.
“Selain spanduk tentang Aer Ujang, kami juga membentangkan tulisan “Sahkan RUU masyarakat Adat” dimana RUU ini sudah pantas disahkan, dibanding RUU cipta lapangan kerja/omnibus law yang nyata-nyata menyengsarakan masyarakat adat dan masyarakat secara umum”. Tambah Rompas. (Wesly)







