Dari Laut ke Meja Makan : Inovasi Pengolahan Hasil Laut Untuk Mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis

oleh -1294 Dilihat
oleh

Prof Roike Montolalu: Menghubungkan Riset, Inovasi, dan Tata Kelola dalam Pencalonan Rektor UNSRAT 

Manado-Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, kampus harus mampu menghadirkan hasil penelitian yang menjawab kebutuhan masyarakat, melahirkan inovasi, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa.

Perspektif tersebut tercermin dalam rekam jejak akademik Prof. Dr. Roike Iwan Montolalu, S.Pi., M.Sc., Guru Besar Bidang Pengolahan Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado.

Dalam dinamika pencalonan Rektor UNSRAT periode 2026–2030, Prof. Roike hadir dengan pengalaman yang mencakup tiga ranah penting perguruan tinggi, yakni pengembangan akademik, penelitian dan inovasi, serta kepemimpinan dan tata kelola kelembagaan.

Pengalaman Akademik dan Manajerial

Perjalanan akademik Prof. Roike tidak hanya dibangun melalui aktivitas pengajaran dan penelitian. Ia juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan organisasi dan kelembagaan universitas.

Ia pernah menjabat Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNSRAT, kemudian dipercaya memimpin Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan sebagai dekan sejak 2022.

Pada Juli 2024, ia mengemban tugas sebagai Wakil Rektor II UNSRAT Bidang Umum dan Keuangan.

Posisi tersebut memberinya pengalaman langsung dalam pengelolaan sumber daya universitas, khususnya administrasi umum, keuangan, serta dukungan sarana dan prasarana penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Pengalaman di bidang penjaminan mutu juga menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya. Ia tercatat sebagai asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak 2015 dan terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan mutu pendidikan tinggi.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan keterlibatan Prof. Roike dalam berbagai tingkatan pengelolaan perguruan tinggi, mulai dari pengembangan penelitian, kepemimpinan fakultas, penjaminan mutu, hingga pengelolaan universitas pada tingkat rektorat.

Pengalaman ini menjadi salah satu aspek yang relevan untuk dicermati dalam proses pemilihan rektor, mengingat tantangan memimpin universitas tidak hanya berkaitan dengan keunggulan akademik, tetapi juga kemampuan membangun tata kelola yang efektif, transparan, dan akuntabel.

Riset dan Inovasi untuk Menjawab Kebutuhan Nasional

Salah satu perhatian penting dalam pengembangan keilmuan Prof. Roike adalah bagaimana potensi sumber daya kelautan dan perikanan dapat diolah menjadi produk pangan bergizi, aman, berkualitas, serta memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Gagasan tersebut disampaikan melalui orasi ilmiah pada 16 Januari 2025 dengan tema:

“Dari Laut ke Meja Makan: Inovasi Pengolahan Hasil Laut untuk Mendukung Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis.”

Melalui gagasan tersebut, Prof. Roike menempatkan hasil penelitian dan inovasi teknologi pangan sebagai bagian dari solusi ilmiah untuk mendukung salah satu program prioritas nasional, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa potensi ikan dan hasil laut tidak semestinya hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai sumber protein dan nutrisi yang dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

Fokus kajiannya mencakup teknologi pengolahan ikan, inovasi pengawetan, pengembangan teknologi pengemasan pangan, serta pemanfaatan bahan baku lokal yang memiliki kandungan gizi.

Salah satu aspek yang menarik adalah pengembangan teknologi pengemasan berbasis bahan alami, termasuk edible coating dan edible film, yang berpotensi membantu mempertahankan kualitas serta memperpanjang masa simpan produk pangan.

Rekam jejak penelitian di bidang tersebut juga berkaitan dengan pengembangan nanokaragenan untuk edible coating dalam menjaga kualitas produk perikanan serta optimasi ekstraksi gelatin dari limbah kulit tuna.

Arah penelitian ini memperlihatkan keterkaitan antara pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, pemanfaatan sumber daya lokal, dan keberlanjutan sektor perikanan.

Dalam konteks pembangunan nasional, pendekatan tersebut memiliki relevansi strategis. Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan pangan, tetapi juga dukungan teknologi pengolahan, standar keamanan pangan, pengemasan, penyimpanan, hingga distribusi.

Bagi Sulawesi Utara yang memiliki potensi kelautan dan perikanan, pengembangan riset semacam ini juga membuka peluang keterlibatan nelayan, pelaku usaha perikanan, UMKM pangan, serta masyarakat dalam rantai ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Tantangan Kepemimpinan UNSRAT ke Depan

Dalam konteks pencalonan rektor, rekam jejak akademik dan manajerial Prof. Roike menjadi bagian dari kapasitas yang dapat dipertimbangkan sivitas akademika.

UNSRAT menghadapi tantangan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat reputasi akademik, mendorong produktivitas penelitian, mengembangkan inovasi, serta memperluas jejaring kerja sama nasional dan internasional.

Di sisi lain, penguatan tata kelola universitas juga menjadi agenda penting. Pengelolaan keuangan, optimalisasi aset, peningkatan kualitas pelayanan akademik, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lingkungan kampus yang produktif membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan berbagai kepentingan.

Pengalaman Prof. Roike sebagai Wakil Rektor II menjadi salah satu dimensi yang relevan untuk melihat keterlibatannya dalam pengelolaan universitas. Sementara pengalaman sebagai dekan dan pejabat di lingkungan LPPM memberikan perspektif mengenai kebutuhan fakultas, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Namun, pengalaman jabatan bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan. Hal yang juga perlu dicermati adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan ke dalam visi, misi, program kerja, dan komitmen terhadap perubahan serta kemajuan universitas.

Sivitas akademika tentu membutuhkan penjelasan konkret mengenai bagaimana seorang calon rektor akan meningkatkan kualitas lulusan, memperkuat riset unggulan, memperluas akses pendanaan penelitian, meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan, serta membangun tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Riset Tidak Boleh Berhenti di Laboratorium

Salah satu pesan penting dari gagasan akademik Prof. Roike adalah bahwa ilmu pengetahuan harus memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Riset tidak semestinya berhenti pada publikasi ilmiah, laboratorium, atau forum akademik. Hasil penelitian harus memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi inovasi, teknologi tepat guna, produk bernilai ekonomi, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Gagasan tentang pengolahan hasil laut untuk mendukung MBG merupakan salah satu contoh bagaimana keunggulan sumber daya daerah dapat dihubungkan dengan agenda pembangunan nasional.

Jika perspektif tersebut dikembangkan dalam skala universitas, UNSRAT memiliki peluang untuk semakin memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berorientasi pada potensi serta kebutuhan daerah.

Dengan kekayaan sumber daya kelautan, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan keanekaragaman hayati Sulawesi Utara, universitas memiliki ruang besar untuk mengembangkan riset unggulan yang berdampak langsung terhadap pembangunan daerah dan nasional.

Pada akhirnya, pencalonan rektor bukan sekadar kontestasi jabatan akademik. Ini merupakan momentum untuk menguji gagasan, rekam jejak, integritas, serta kemampuan kepemimpinan setiap calon dalam membawa universitas menghadapi tantangan masa depan.

Prof. Roike Montolalu memiliki rekam jejak yang dapat dicermati melalui pengalaman akademik, penelitian, dan jabatan manajerial yang pernah diembannya.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh pengalaman dan kapasitas tersebut diterjemahkan menjadi agenda kepemimpinan yang terukur, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan seluruh sivitas akademika.

Sebab, universitas yang besar bukan hanya universitas yang memiliki banyak guru besar dan menghasilkan publikasi ilmiah, melainkan universitas yang mampu mengubah ilmu pengetahuan menjadi kemajuan, inovasi menjadi manfaat, dan pendidikan menjadi kekuatan bagi masa depan bangsa.

Sementara itu, Efvendy Sondakh, Dosen Fisip Unsrat berpendapat, memang UNSRAT membutuhkan sosok pemimpin yang visioner, berintegritas, berani melakukan perubahan, serta memiliki komitmen kuat dalam memajukan dunia pendidikan tinggi.

Di mana, kepemimpinan ke depan harus mampu menjadikan Universitas Sam Ratulangi bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi sebagai pusat keunggulan ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Rektor yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu membangun tata kelola universitas yang transparan dan profesional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat daya saing lulusan, serta membawa UNSRAT semakin diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

“Ya, UNSRAT membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya melanjutkan perjalanan, tetapi berani membawa perubahan dan menciptakan masa depan,” tegas Mneer Fhen sapaan akrab Dosen Ilmu Politik Unsrat ini.(red)

No More Posts Available.

No more pages to load.