Morut-Kegiatan Orientasi Kader Posyandu Terintegrasi Bidang Kesehatan yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Morowali Utara ( Morut), dinilai sangat besar manfaatnya bagi para kader Posyandu yang ada.
Selain itu, pelaksanaan orientasi itu sudah sesuai ketentuan melalui pembahasan bersama dengan Dinas terkait lainnya, dan dipastikan tidak ada manipulasi pembiayaan dalam pelaksanaan kegiatan orientasi itu.
“Sumber biaya yang digunakan untuk pelatihan itu berasal dari Dinkesda Morut dan APBDes (Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa) dari Desa masing-masing peserta,” tukas Kadiskesda Morut, Drs Romelius Sapara, didampingi Sekdis Arief Paskal Pokonda, SST, MKes, dan sejumlah staf dari Dinkesda sebagai panitia orientasi kader Posyandu, kepada sejumlah wartawan, di Kolonodale, Selasa (10/06/2025).
Penegasan, Romelius Sapara tersebut, untuk menanggapi munculnya berita yang mempertanyakan penggunaan anggaran kegiatan tersebut, sekaligus mendesak kejaksaan untuk memeriksa Kadiskesda Morut.
Kata dia, orientasi bagi kader Posyandu tersebut berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama di laksanakan di Hotel Mulia Pendolo, 28-30 April 2025 diikuti 95 peserta dan tahap kedua di Hotel Estrella Luwuk Banggai 1-4 Juni 2025 diikuti 75 peserta.
Kadiskesda Romelius Sapara, menyatakan, sangat keberatan dengan munculnya berita tersebut, tanpa dikonfirmasi agar tidak terjadi fitnah dan tuduhan sepihak yang sangat mencederai nama baiknya.
“Saya tidak pernah dikonfirmasi, baik langsung maupun melalui panggilan WhatsApp (WA) tentang tuduhan itu. Lihat ini HP saya, apakah ada WA atau panggilan. Tidak ada konfirmasi. Berita ini justru menjurus fitnah, ” tegasnya.
Ia kemudian menguraikan dasar pelaksanaan, tujuan, dan pembiayaan pelatihan para kader Posyandu se Kabupaten Morut itu.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi para kader Posyandu di Desa. Kegiatan ini sudah diprogramkan cukup lama, untuk menambah pengetahuan mereka dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Melalui pelatihan itu juga dijelaskan 25 keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh para kader dalam pelaksanaan Posyandu terintegrasi yang terbagi dalam lima keterampilan, yakni keterampilan pengelolaan posyandu, keterampilan bayi dan balita, keterampilan ibu hamil dan menyusui, keterampilan usia sekolah dan remaja, serta keterampilan usia dewasa dan lansia.
Dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan pelatihan ini merupakan kolaborasi dari dua OPD, yakni Dinas PMD Morut melalui APBDes dan Dinkesda. APBDes untuk ongkos transportasi peserta dan biaya penginapan. Sedangkan Dinkesda membiayai konsumsi, ruang pertemuan dan para nara sumber.
“Jadi biaya penginapan (hotel) ditanggung masing-masing peserta. Panitia dari Dinkesda Morut, hanya membantu proses administrasinya saja. Tidak ada permainan atau menambahkan biaya untuk kamar hotel. Jadi kalau ada dua orang dalam satu kamar, itu berarti mereka atur untuk berdua,” tegasnya.
Terkait saat kegiatan di Pendolo ada kamar hotel diisi 3 sampai 4 peserta, itu karena terbatasnya kamar hotel, sehingga perlu extra bed. Selain itu, jarak antara tempat kegiatan di hotel Mulia dengan hotel atau penginapan lainnya cukup jauh sehingga bisa mengganggu kegiatan, jika ada peserta menginap di hotel lain.
Ia juga menjelaskan, selain untuk peningkatan kapasitas peserta, pelatihan ini juga sebagai reward (penghargaan) kepada para kader Posyandu di Desa atas pengabdian mereka dalam penurunan angka stunting di Morut.
“Tahun 2024 sebelumnya, Morut mendapat penghargaan sekaligus insentif khusus berupa dana fiskal sebesar Rp 5,8 Milyar dari Menteri Keuangan RI, atas keberhasilan menurunkan angka stunting. Prestasi ini tidak bisa dipisahkan dengan kerja-kerja kader Posyandu. Jadi wajar kalau kita berikan pelatihan sekaligus refreshing,” jelas Romelius Sapara yang juga mantan Kadis DP2KBP3AD Morut itu.
Refreshing ini, lanjutnya, masih dalam batas kewajaran, apalagi dilaksanakan masih di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Sekali-kali juga para kader Posyandu itu dibawa keluar kampungnya.
“Orientasi ini masih di wilayah Sulteng. Kalau kita laksanakan di luar daerah seperti Jakarta, Bali, atau kota lainnya, mungkin itu bisa disebut bertentangan dengan kebijakan efisiensi anggaran. Sekali lagi, ini masih dalam batas kewajaran,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinkesda Morut, Arief Paskal Pokonda, SST MKes, menambahkan, pelatihan kader Posyandu yang dilaksanakan di Luwuk diikuti peserta dari tiga kecamatan, yakni Bungku Utara, Mamosalato dan Soyo Jaya.
Lokasi Luwuk ini dipilih, karena jaraknya relatif lebih dekat dari tiga kecamatan tersebut, terutama Bungku Utara dan Mamosalato. Biayanya pasti lebih murah dibandingkan jika mereka harus ke Kolonodale.
Begitupun peserta dari tujuh Kecamatan lainnya yakni Petasia, Petasia Barat, Petasia Timur, Lembo, Lembo Raya, Mori Atas dan Mori Utara, lokasinya lebih dekat ke Pendolo, dari pada harus ke Luwuk.
“Jadi orientasi kader Posyandu yang dilaksanakan di Luwuk dan Pendolo sudah mempertimbangkan banyak aspek. Peserta kegiatan juga mendapatkan tambahan pengetahuan terkait pekerjaannya,” jelas Kak Boy sapaan akrabnya.
Para peserta menyatakan rasa terima kasihnya atas penyelenggaraan pelatihan ini. Selain bisa mendapatkan tambahan pengetahuan sekaligus bisa merasakan suasana lain di luar daerahnya.
“Saya sudah mengabdi sebagai kader Posyandu selama kurang lebih 30 tahun. Saya sangat berterima kasih dengan kegiatan ini, karena saya sendiri baru satu kali ini sampai di Luwuk dan menginap di hotel,” demikian pengakuan jujur Misiliati, kader Posyandu dari Dusun 2 Desa Malino, Kecamatan Soyojaya. (*/NAL)









