SITARO-Kabupaten kepulauan seperti Sitaro memiliki tantangan unik. Laut bukan hanya batas wilayah, tetapi kadang terasa seperti batas harapan. Infrastruktur tersebar di pulau-pulau, layanan dasar tidak semudah di kota besar.
Dalam situasi seperti itu, pemimpin yang hadir bukan hal sepele. Itu menjadi penentu apakah masyarakat merasa diperhatikan atau justru ditinggalkan. Kerja nyata Bupati Chika Hero terlihat terutama saat bencana erupsi Gunung Ruang mengguncang kehidupan warga Tagulandang.
Trauma kolektif yang lahir dari dentuman alam itu tidak bisa disembuhkan hanya dengan kalimat simpati di siaran pers.Pemerintah daerah bergerak cepat melepaskan blokir dana bantuan yang sebelumnya terhenti di pusat perbankan dan administrasi.
Perjuangan membuka kembali akses dana stimulan dari BNPB menjadi salah satu bentuk keberpihakan langsung kepada rakyat yang kehilangan tempat tinggalnya.Tidak ada yang lebih mulia selain memastikan warganya bisa kembali membangun rumah dan hidup dengan bermartabat.
Di sektor listrik dan layanan publik lain, akses yang selama ini terhambat kini dipertemukan dengan upaya serius. Audiensi langsung dengan pihak PLN untuk mencari solusi keterbatasan listrik menjadi contoh bahwa keluhan warga tidak cukup hanya dicatat dalam buku laporan, tetapi perlu dibawa sampai ke meja pemangku kebijakan.
Perubahan seperti ini kerap tidak mendapat sorotan besar, karena ia tidak selalu bising. Kerja nyata memang jarang berteriak. Ia berjalan pelan, tetapi pasti. Ia hadir dari rumah warga ke rumah warga lain yang kembali berdiri setelah bencana. Ia hadir dari kebijakan kecil yang memotong rantai birokrasi agar bantuan tidak tersesat. Ia hadir dari keberanian bertanggung jawab, meski tantangan datang bukan hanya dari alam, tetapi juga dari dinamika politik internal.
Ada yang berkata bahwa pemimpin yang bekerja tidak perlu banyak bicara. Namun masyarakat juga layak tahu bahwa apa yang mereka lihat hari ini adalah hasil dari kerja panjang yang tidak selalu tampak di permukaan. Masyarakat Sitaro tidak menuntut kesempurnaan.
Kabupaten kepulauan ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Infrastruktur harus terus dikejar, kualitas pendidikan dan kesehatan harus naik pangkat, ekonomi harus lebih dinamis. Namun langkah-langkah awal yang sudah diletakkan memberi satu pesan penting Sitaro bergerak. Bukan mundur apalagi diam, melainkan berlari mengejar kesejahteraan bersama.
Di tengah ombak tantangan dan angin kritik, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk tetap memegang kemudi. Selama kerja nyata terus berbicara lebih lantang daripada retorika, masyarakat Sitaro selalu punya alasan untuk optimis bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini. (*Ighel)















