Minut-Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menyiapkan pendekatan kolaboratif untuk menangani wilayah rentan pangan melalui inovasi SIPERINTIS MINUT yang mengandalkan kemitraan lintas sektor dan dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Inovasi yang digagas Dinas Pangan Minut di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Asriyadi Lalompoh itu resmi diluncurkan Bupati Minahasa Utara Joune James Esau Ganda di Atrium Kantor Bupati, Senin (2/11/2026).
SIPERINTIS MINUT menjadi salah satu dari delapan inovasi daerah yang diluncurkan dalam kegiatan Sosialisasi Pengembangan Kompetensi bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Program ini mengusung pendekatan pentahelix dengan melibatkan lima unsur, yakni pemerintah, perusahaan, komunitas, masyarakat, dan media. Kelima unsur tersebut diarahkan untuk membangun kerja sama dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat desa.
Berbeda dari pola penanganan yang hanya berfokus pada bantuan pangan, SIPERINTIS MINUT mendorong pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari solusi jangka panjang. Sebab, kerentanan pangan tidak hanya dipengaruhi ketersediaan bahan pangan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengakses dan memenuhi kebutuhan pangan secara berkelanjutan.
Dalam skema ini, pemerintah daerah bertindak sebagai pengarah dan fasilitator. Perusahaan didorong berkontribusi melalui program CSR, sedangkan komunitas dan masyarakat terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan.
Media juga memiliki peran dalam mempublikasikan potensi desa, menyebarluaskan informasi program, serta mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat.
Penggunaan CSR menjadi salah satu strategi pembiayaan yang ditawarkan dalam inovasi tersebut. Melalui kemitraan dengan dunia usaha, program pemberdayaan diharapkan dapat berjalan tanpa sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Skema ini sekaligus membuka peluang bagi perusahaan untuk mendukung pengembangan potensi lokal sesuai kebutuhan masyarakat desa. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam mengembangkan kegiatan ekonomi produktif.
Kepala Dinas Pangan Minut, Asriyadi Lalompoh, melalui SIPERINTIS MINUT mendorong penanganan wilayah rentan pangan yang mengintegrasikan penguatan ketahanan pangan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Namun, efektivitas inovasi ini akan ditentukan oleh implementasi di lapangan, terutama dalam membangun kemitraan konkret, memastikan keterlibatan masyarakat, dan menjaga keberlanjutan program.
Bupati Joune Ganda dalam sambutannya menegaskan, inovasi yang dihasilkan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) harus diterapkan dan dikembangkan, bukan sekadar untuk memenuhi persyaratan pendidikan.
“Saya berharap inovasi yang dihasilkan ini bukan hanya sekadar memenuhi persyaratan sebagai peserta PKN. Inovasi ini harus menjadi sebuah legacy, harus dilaksanakan dan terus dikembangkan,” tegas Joune.
Arahan tersebut menekankan pentingnya keberlanjutan setiap inovasi daerah agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Melalui SIPERINTIS MINUT, Dinas Pangan Minahasa Utara menargetkan penguatan ketahanan pangan berbasis potensi lokal dan kolaborasi lintas sektor.
Keberhasilan program ini akan bergantung pada pelaksanaan yang terukur, dukungan para pemangku kepentingan, serta dampak nyata terhadap kemampuan ekonomi masyarakat di wilayah rentan pangan. (T3)





