Bitung, Redaksisulut – Sadis, proyek Operasi Pemeliharaan Sumber Daya Air III di Daerah Aliran Sungai (DAS) Girian dengan anggaran pemeliharaan senilai Rp.1.003.769.000,- diduga dikerjakan asal jadi.
Hal ini terpantau jika dalam pengerukan dengan menggunakan alat berat hanya diletakan dibantaran sungai tidak diangkut seperti pada proyek sebelumnya.
Menurut Meidy Mokalu salah satu Anggota Sekolah Sungai Bitung menyampaikan bahwa, proyek ini hanya proyek asal-asalan.
“Sebelumnya dalam pengerukan selalu diangkut pake truk ke tempat lain agar pasir dan batu tidak kembali ke sungai, tetapi berbeda dengan saat ini, pasir dan batu hanya diletakan di bantaran sungai”. Katanya.
- Asisten Pemerintahan dan Kesra Pimpin Apel Pengamanan, Pastikan Puncak TIFF 2026 Berjalan Aman dan Sukses
- Kontes Otomotif Meriahkan Rangkaian TIFF 2026, Libatkan 61 Peserta dari Sejumlah Daerah di Sulut
- Gubernur Yulius Canangkan Rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HUT ke-62 Provinsi Sulut, Tegaskan Semangat “Sulut Melaju”
Dirinya melanjutkan bahwa hal ini harus jadi perhatian karena jika pekerjaanya seperti ini, pasir dan batu yang tidak diangkut walau tidak ada banjir pasti akan kembali ke sungai.
“Pihak Sekolah Sungai akan meminta klarifikasi kepada Dinas PU Kota Bitung soal proyek tersebut, agar kedepan tak ada yang dirugikan saat bencana”. Tambahnya.
Hal yang sama nuga disampaikan oleh warga sekitar sungai dimana proyek seharga 1 Miliar ini dikerjakan hanya sekitar 9 hari.
“Proyek itu hanya dikerjakan sekitar 2 minggu”. Kata seorang Ibu, warga yang tinggal dekat jembatan sungai sembari diiyakan dua temannya saat ditemui wartawan.
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Sumber Daya Air PUPR Bitung, Norke Ibrahim saat dikonfirmasi mengatakan jika proyek tersebut bukan milik Pemkot Bitung, namun proyek dari Balai Wilayah Sungai.
“Saya sudah melihat papan proyeknya dan itu milik dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi I Kementerian PUPR”. Kata Norke.
Dirinya mengaku bahwa baru tahu jika ada proyek pengerukan DAS Girian setelah dikonfirmasi sejumlah Wartawan dan melakukan pengecekan du lapangan.
“Kami juga baru tahu ada proyek itu, sebab selama ini belum ada koordinasi dari Balai Wilayah Sungai ke kami”. Katanya.
Untuk saat ini tumpukan pasir dan batu yang hanya dipadatkan menggunakan alat berat dibantaran sungai, terlihat sudah mulai hanyut. (Wesly)







