Pesparani Katolik 1 Sulteng Dibuka, 13 Kabupaten/Kota Padukan Suara Rawat Persaudaraan

oleh -58 Dilihat
oleh

Palu – Sejarah baru bagi umat Katolik di Sulawesi Tengah (Sulteng) dimulai. Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik I Provinsi Sulteng 2026 resmi dibuka di Cendana Ballroom, Grand Sya Hotel Palu, Kamis (01/10/2026) malam, dengan mempertemukan kontingen dari 13 Kabupaten/Kota dalam semangat persaudaraan.

Mengusung tema “Merawat Persaudaraan untuk Gereja dan Bangsa” dan subtema “Berjalan Bersama, Padukan Suara, Wartakan Kasih”, Pesparani pertama tingkat Provinsi Sulteng tersebut berlangsung 1 – 4 Oktober 2026 di Kota Palu.

Anggota DPD RI Dapil Sulteng, Febriyanthi Hongkiriwang SSi Apt, yang menghadiri pembukaan, mengatakan, Pesparani tidak semestinya dipandang hanya sebagai ajang menampilkan kemampuan bernyanyi atau berkompetisi.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan nilai-nilai iman, persaudaraan, dan pelayanan.

” Pesparani ini bukan hanya alunan suara kita, tetapi di situ ada nilai-nilai gerejawi. Karena itu, mari di acara Pesparani ini kita tampilkan nilai-nilai itu. Biar melalui ajang ini kita boleh menjadi berkat buat orang lain,” kata Febriyanthi.

Kehadiran Febriyanthi pada pembukaan Pesparani memiliki makna tersendiri. Ia mengungkapkan, bahwa dirinya membatalkan agenda di Jakarta untuk menghadiri peringatan Hari Kesaktian Pancasila sekaligus HUT ke-22 DPD RI agar dapat hadir dalam momentum bersejarah ini.

“Saya merasa berutang kepada umat Katolik yang ada di Sulteng,” ujarnya.

Febriyanthi juga menyampaikan terima kasih kepada umat Katolik di Sulteng atas doa dan dukungan yang terus diberikan kepadanya.

Kata dia, seluruh peserta yang tampil dalam Pesparani patut menghargai kesempatan yang telah diperoleh karena mereka merupakan perwakilan yang dipilih dari daerah masing-masing.

” Kita semua yang ada di sini adalah pemenang, karena kita sudah dipilih dari begitu banyak orang di Kabupaten dan Kota masing-masing untuk mewakili sampai di tingkat Provinsi Sulteng,” katanya.

Uskup Keuskupan Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu, MSC, turut memberikan pesan penting dalam pembukaan Pesparani perdana tersebut.

Ia menyampaikan, ucapan selamat atas terselenggaranya Pesparani Katolik pertama Sulteng. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar festival dengan unsur perlombaan, tetapi terutama merupakan pesta iman yang mengajak umat memberikan persembahan terbaik untuk memuliakan Tuhan.

Rolly Untu, menjelaskan, keberadaan juri dalam berbagai kategori tidak semata-mata dimaksudkan untuk menentukan pemenang, melainkan membantu mengukur dan mengembangkan kualitas paduan suara, kemampuan bermazmur, bertutur Kitab Suci, serta berbagai bentuk penghayatan iman yang ditampilkan peserta.

” Semua itu untuk memuliakan Tuhan dan menghidupkan serta membangkitkan semangat dalam berdoa dan beribadah sebagai ungkapan cinta kita kepada Tuhan dan kepada sesama,” jelasnya.

Ia menekankan, bahwa Pesparani harus memberi dampak lebih luas daripada sekadar bagi umat Katolik.

Sejalan dengan tema kegiatan, Rolly Untu berharap, Pesparani menjadi bagian dari upaya merawat persaudaraan serta menghadirkan kontribusi umat bagi kehidupan gereja dan bangsa.

” Melalui festival ini, melalui segala persiapan, persembahan lagu, latihan membaca dan menyanyikan mazmur, serta narasi Kitab Suci, semuanya mengajak kita untuk menjadi garam dan terang,” katanya.

Ketua panitia, dalam laporannya, menyampaikan, bahwa Pesparani Katolik I Sulteng menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya kegiatan tersebut digelar di tingkat provinsi.

Sebanyak 531 peserta bersama official dan pendamping mengikuti rangkaian Pesparani. Sementara umat Katolik yang hadir bersama kontingen dan mengikuti misa sebelum pembukaan diperkirakan mencapai sekitar 1.200 orang.

Rangkaian kegiatan meliputi festival mazmur dalam empat kategori, festival bertutur Kitab Suci, festival tanya jawab Kitab Suci, serta festival paduan suara dalam dua kategori.

Panitia menegaskan, bahwa kegiatan tersebut merupakan pesta paduan suara, bukan semata-mata perlombaan.

Peserta dari berbagai daerah diharapkan hadir dengan keunikan masing-masing, baik dalam bernyanyi, bermazmur maupun bertutur Kitab Suci, sekaligus mempertanggungjawabkan penghayatan iman mereka.

Menariknya, semangat persaudaraan dalam Pesparani juga tercermin dalam kepanitiaan. Panitia menyebut keterlibatan sejumlah umat Muslim dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk dalam posisi kepanitiaan.

Kolaborasi lintas umat beragama itu menjadi salah satu gambaran bahwa Pesparani tidak hanya berbicara tentang kehidupan internal umat Katolik, tetapi juga membuka ruang kebersamaan di tengah keberagaman di Sulteng.

Salah satu daerah yang ikut mencatatkan sejarah dalam Pesparani perdana ini adalah Morowali Utara (Morut).
Sebanyak 62 orang kontingen LP3KD Morut diberangkatkan untuk mengikuti Pesparani di Kota Palu.

Kontingen tersebut sebelumnya dilepas pada Selasa (29/09/2026) di Gereja Katolik Sta. Maria Bunda Penolong Abadi Paroki Beteleme oleh Febriyanthi Hongkiriwang bersama Bupati Morut, Dr dr Delis Julkarson Hehi MARS.

Kontingen Morut terdiri atas 31 peserta PSDC, tiga peserta CCR, serta masing-masing 1 peserta untuk kategori Mazmur Anak, Mazmur Remaja, Mazmur OMK, Mazmur Dewasa, dan Tutur Kitab Suci. Rombongan juga diperkuat tujuh official serta 16 peserta defile dan Maria Hidup.

Kontingen tersebut dipimpin Ketua LP3KD Morut, Mikanos, dan Mikael Deti sebagai ketua rombongan dan didampingi Pastor Frits Karamoy Pr.

Saat melepas kontingen, Bupati Delis, berpesan agar seluruh peserta mengikuti Pesparani dengan penuh sukacita, menjaga kekompakan, serta membawa nama baik Morut.

Pesparani juga diharapkan tidak hanya dimaknai sebagai ajang kompetisi, tetapi sebagai kesempatan memperkuat iman, persaudaraan, kebersamaan, dan pelayanan.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat Pesparani 2026 yang mengajak seluruh peserta berjalan bersama, memadukan suara, dan mewartakan kasih.

Pesparani Katolik I Sulteng juga menjadi bagian dari perjalanan menuju Pesparani Katolik Nasional IV yang akan berlangsung di Sulawesi Utara (Sulut) pada 2027.

Kementerian Agama menetapkan Sulut sebagai tuan rumah Pesparani Katolik Nasional IV 2027 melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 1179 Tahun 2026.

Bagi Sulteng, pelaksanaan Pesparani tingkat provinsi menjadi pengalaman perdana sekaligus ruang untuk menjaring dan mempersiapkan wakil daerah yang akan membawa nama Sulteng di ajang nasional tersebut.

Namun, pesan yang paling menonjol dari Pesparani pertama ini bukan semata-mata soal siapa yang tampil paling baik.

Di atas panggung, 13 Kabupaten/Kota datang dengan latar belakang, karakter, dan keunikan masing-masing. Mereka kemudian dipertemukan dalam satu perayaan iman dan satu semangat: merawat persaudaraan untuk gereja dan bangsa.

Dari Morut hingga Banggai Laut, dari paduan suara hingga lantunan mazmur dan tutur Kitab Suci, Pesparani Katolik I Sulteng 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan suara-suara yang berbeda dalam satu pesan yang sama, berjalan bersama, memadukan suara, dan mewartakan kasih. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.