Manado-Upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Utara terus diperkuat dengan melibatkan generasi muda sebagai ujung tombak perubahan.
Hal ini tercermin dalam Grand Final Pemilihan Duta Cegah Stunting Remaja tingkat Provinsi Sulawesi Utara yang digelar di Manado Town Square, Jumat (24/4/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Utara bersama Dinas Kesehatan ini tidak sekadar ajang kompetisi, tetapi menjadi ruang edukasi strategis untuk membangun kesadaran remaja tentang pentingnya pencegahan stunting sejak dini.
Ketua TP PKK Sulut, Ny. Anik Yulius Selvanus, yang hadir sebagai juri kehormatan, menegaskan bahwa keterlibatan remaja merupakan langkah penting dalam memutus rantai stunting, terutama melalui pendekatan edukatif di lingkungan sebaya.
Menurutnya, remaja memiliki posisi yang kuat sebagai agen perubahan karena mampu menjangkau komunitasnya secara lebih efektif, baik melalui interaksi langsung maupun pemanfaatan media sosial.
“Pendekatan kepada remaja harus dilakukan dengan cara yang relevan dengan dunia mereka. Edukasi soal gizi seimbang, kesehatan reproduksi, hingga pola hidup sehat harus disampaikan secara masif dan berkelanjutan,” ujar Anik.
Ia juga menyoroti bahwa pencegahan stunting tidak hanya dimulai saat kehamilan, tetapi jauh sebelumnya, yakni sejak usia remaja. Pengetahuan tentang kesiapan menikah, kesehatan tubuh, dan asupan gizi menjadi faktor kunci dalam menciptakan generasi yang sehat di masa depan.
Ajang pemilihan duta ini menghadirkan perwakilan remaja dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, yang tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga pemahaman, gagasan, serta kemampuan mereka dalam mengampanyekan isu stunting.
Antusiasme peserta dan dukungan berbagai pihak menunjukkan bahwa isu stunting semakin mendapat perhatian luas. Kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan generasi muda, dinilai menjadi kunci dalam menekan prevalensi stunting secara signifikan.
Melalui kegiatan ini, para duta terpilih diharapkan mampu menjalankan peran lebih dari sekadar simbol, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak edukasi di tengah masyarakat, khususnya di kalangan remaja.
Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan partisipatif, Sulawesi Utara optimistis dapat mempercepat penurunan angka stunting sekaligus menyiapkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. (*JM)








