IAIN Sultan Amai Gorontalo Resmi Menjadi UIN, Dharma Lauma : Kampus Dinilai dari Gagasan, Bukan Status.

oleh -733 Dilihat
oleh

Gorontalo-Perubahan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo melalui Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2026 mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Perubahan tersebut dipandang sebagai langkah penting dalam pengembangan pendidikan tinggi Islam di Gorontalo.

Mantan Wakil Presiden Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo tahun 2025, Tri Dharma Lauma, menyebut keputusan itu membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan institusi. Kesempatan tersebut, kata dia, perlu dijawab dengan penguatan kualitas akademik di lingkungan kampus.

“Perubahan status ini patut disyukuri. Ada ruang yang lebih besar untuk berkembang. Pertanyaannya sekarang, arah pengembangannya akan dibawa ke mana” ujar Dharma Lauma, Senin (27/7/26).

Ia menilai ukuran keberhasilan sebuah universitas tidak ditentukan oleh perubahan nama ataupun status kelembagaan. Kampus akan dinilai dari kemampuannya membangun tradisi akademik yang sehat serta menghasilkan gagasan yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Dharma Lauma mendorong UIN Sultan Amai Gorontalo memperkuat budaya membaca, menulis, meneliti, dan berdiskusi sebagai fondasi kehidupan akademik. Aktivitas tersebut, menurutnya, perlu hadir sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sebatas memenuhi tuntutan administratif.

“Kampus hidup karena gagasan. Gagasan lahir dari ruang diskusi, penelitian, dan kebiasaan membaca. Kultur seperti itu yang perlu terus dirawat.”

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebebasan akademik. Kampus, kata Dharma Lauma, semestinya menjadi ruang yang memberi kesempatan kepada dosen dan mahasiswa untuk menyampaikan pandangan ilmiah, menyampaikan kritik, serta menguji berbagai gagasan secara terbuka dengan tetap berpegang pada etika akademik.

“Kampus merupakan tempat orang mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Perbedaan pendapat adalah bagian dari proses itu. Selama disampaikan dengan argumentasi yang baik dan bertanggung jawab, ruang tersebut perlu dijaga,” katanya.

Selain kebebasan akademik, Dharma Lauma memandang keterbukaan institusi menjadi bagian penting dalam perjalanan UIN Sultan Amai Gorontalo. Informasi mengenai kebijakan kampus, pengembangan kelembagaan, hingga program-program akademik perlu disampaikan secara terbuka agar tercipta komunikasi yang sehat antara pimpinan dan sivitas akademika.

Ia menilai budaya dialog akan memperkuat kepercayaan publik terhadap kampus. Keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam menyampaikan gagasan juga akan membantu pengambilan kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan akademik.

Dharma Lauma turut menyinggung pelayanan akademik sebagai salah satu unsur yang mendukung kualitas universitas. Pelayanan administrasi yang efektif, proses akademik yang jelas, serta koordinasi yang baik antarlembaga akan memberikan pengalaman belajar yang lebih baik bagi mahasiswa.

“Pelayanan akademik memang bukan satu-satunya ukuran kualitas universitas. Namun pelayanan yang tertata akan menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan mendukung aktivitas akademik,” ujarnya.

Ia berharap perubahan status menjadi UIN menjadi titik awal lahirnya kampus yang semakin produktif dalam menghasilkan penelitian, memperkuat tradisi keilmuan, serta menghadirkan ruang akademik yang terbuka bagi seluruh sivitas akademika.

“Nama UIN sudah ditetapkan. Tugas berikutnya adalah mengisi nama itu dengan kerja ilmiah yang konsisten. Masyarakat akan melihat kualitas sebuah universitas dari gagasan yang dihasilkan, budaya akademik yang dibangun, dan manfaat yang dirasakan bersama,” tutup Dharma Lauma.(**IR)

No More Posts Available.

No more pages to load.