Minsel-Naiknya harga beras tidak dapat dibendung oleh pemerintah sehingga dampak negatifnya langsung dirasakan masyarakat dari semua kalangan.
Kabupaten Minahasa Selatan memiliki beberapa desa yang biasa dikatakan sebagai lumbung padi atau memiliki lahan persawahan yang luas dan dapat mendongkrak kebutuhan masyarakat dengan harga beras yang sangat terjangkau.
Saat ini tidak dapat dipungkiri lagi bahwa persawahan di kabupaten Minahasa Selatan. Makin kecil dan minat menanam padi bagi petani hampir punah, pasalnya berhektar-hektar lahan persawahan di telah di sulap menjadi perkebunan buah semangka dan melon.
Bagi petani yang notabene hanya menyewah lahan persawahan kehilangan tempat lahan sebagai petani Padi karena harga sewa telah dinaikan oleh pemilik lahan akibat ada persaingan dengan petani buah semangka.
- Sah! DPRD Sulut Setujui Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2025
- Widyawati : Kader PKK Tidak Hanya Berperan Dalam Pembinaan Keluarga, Tetapi Mampu Jadi Motor Penggerak Ekonomi Masyarakat
- PLN UP3 Luwuk Perkuat Ekosistem Green Energy Melalui Program TJSL, Bekali Siswa SMKN 2 Luwuk Kompetensi Konversi Kendaraan Listrik
Hal ini berdampak pada mahalnya harga beras di pasaran yang mencapai Rp 15.000 sampai Rp.20.000, ini tentunya sangat membuat masyakat menjadi kesulitan.
Disisi lain naiknya harga beras akan berdampak bagi pelaku-pelaku usaha lain seperti kios makanan sampai ke restoran dan tentunya akan mengarah ke konsumen.
Fenomena ini membutuhkan perhatian pemerintah baik di kabupaten/kota, propinsi maupun pemerintah pusat. (*/Onal M)








