Minut-Ukuran keberhasilan pendidikan tidak selalu dimulai dari nilai ujian, angka kelulusan atau deretan prestasi siswa. Di Minahasa Utara, pekerjaan yang lebih mendasar justru masih menjadi perhatian memastikan anak-anak belajar di sekolah yang memiliki sanitasi layak, air bersih, guru yang siap menghadapi perubahan teknologi serta sistem pelayanan yang mampu merespons persoalan secara cepat.
Persoalan tersebut menjadi bagian penting yang dibahas Dinas Pendidikan Minahasa Utara dalam forum “OPD Connects with Professional Wartawan Minahasa Utara (Pro WN): Menghubungkan Ide, Mewujudkan Aksi”, Rabu (7/10/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Minahasa Utara, Dr. Evelyn Sisilia Luntungan, S.IP., M.A.P., mengungkapkan bahwa pembenahan pendidikan harus dimulai dari kebutuhan nyata yang dihadapi satuan pendidikan.
Bagi Evelyn, pendidikan merupakan urusan pemerintahan wajib yang berkaitan langsung dengan pelayanan dasar. Karena itu, tugas Dinas Pendidikan tidak berhenti pada administrasi program, tetapi memastikan pelayanan tersebut benar-benar dirasakan peserta didik.
“Pendidikan menyangkut urusan pemerintahan wajib yang berkaitan dengan pelayanan dasar,” kata Evelyn.
Dari kerangka tersebut, Dinas Pendidikan mulai memetakan sejumlah persoalan yang menjadi fondasi layanan pendidikan, salah satunya kondisi toilet dan ketersediaan air di sekolah.
Evelyn mengungkapkan, persoalan sanitasi sekolah tidak sesederhana menghitung jumlah toilet yang tersedia.

Hasil pemetaan perlu melihat kondisi faktual di lapangan. Sebab, terdapat sekolah yang memiliki toilet tetapi tidak seluruh fasilitasnya berfungsi. Bahkan ada toilet yang sudah memiliki kloset namun belum dilengkapi pintu sehingga belum memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi siswa.
Persoalan semakin kompleks ketika fasilitas sanitasi tidak ditopang ketersediaan air.
“Biar ada toilet, kalau tidak ada air tetap tidak bisa digunakan. Itu dua hal yang saling berkaitan,” ujarnya.
Karena itu, Dinas Pendidikan tidak akan menggunakan pola penanganan yang seragam untuk seluruh sekolah.
Sekolah yang kondisinya paling membutuhkan akan menjadi prioritas berdasarkan tingkat urgensi. Untuk memastikan data tersebut tidak hanya berdasarkan laporan administratif, Dinas Pendidikan menyiapkan tim teknis yang akan melakukan pemetaan kondisi riil satuan pendidikan.
Hasil inventarisasi nantinya menjadi dasar untuk menentukan sekolah yang membutuhkan pembangunan fasilitas baru, perbaikan maupun pembenahan sarana yang sudah tersedia.
Langkah tersebut sekaligus menjadi respons terhadap tantangan yang diberikan Badan Kepegawaian Negara (BKN) agar satuan pendidikan memenuhi kebutuhan dasar berupa sanitasi dan air.
Bagi Dinas Pendidikan, tantangan itu kemudian diterjemahkan menjadi target kerja.
Pemerintah daerah juga akan mengoptimalkan ruang intervensi yang tersedia, termasuk bersinergi dengan program pemerintah pusat terkait revitalisasi satuan pendidikan.
Ketersediaan air semakin penting ketika Minahasa Utara menghadapi kondisi kemarau panjang dan cuaca ekstrem.
Meski demikian, hingga forum tersebut berlangsung, Evelyn mengatakan belum menerima laporan mengenai sekolah yang mengalami kekurangan air hingga mengganggu proses pelayanan pendidikan.
Kepala sekolah dinilai masih mampu melakukan langkah antisipasi untuk memenuhi kebutuhan air di lingkungan masing-masing.
Namun kondisi tersebut tidak berarti persoalan air dikesampingkan.
Sebaliknya, ketersediaan air tetap dimasukkan dalam pemetaan kebutuhan sekolah. Ketika pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana, sektor pendidikan juga perlu melihat dampaknya terhadap satuan pendidikan.
Untuk kebutuhan yang bersifat darurat, Evelyn mengatakan belum melihat adanya kebutuhan mendesak yang harus menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk sektor pendidikan.
Menurutnya, anggaran darurat dapat diarahkan pada kebutuhan lain yang memiliki tingkat urgensi lebih tinggi.
Sementara untuk kebutuhan jangka menengah, pembenahan sarana dasar sekolah tetap disiapkan.
Salah satu opsi yang mulai dipikirkan adalah membangun kolaborasi dengan PDAM untuk membantu sekolah yang menghadapi persoalan ketersediaan air, tanpa mengganggu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Pekerjaan rumah pendidikan Minahasa Utara tidak berhenti pada fasilitas fisik.
Ketika perangkat teknologi mulai masuk ke ruang kelas, tantangan berikutnya adalah memastikan guru mampu menggunakannya untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Sejumlah sekolah telah mendapatkan Interactive Flat Panel (IFP) melalui program digitalisasi pembelajaran pemerintah pusat.
Namun, menurut Evelyn, keberadaan perangkat tersebut belum otomatis berarti transformasi digital telah terjadi.
Masih terdapat guru yang membutuhkan kemampuan dan pendampingan untuk mengoperasikan sekaligus memanfaatkan teknologi tersebut dalam kegiatan belajar mengajar.
Dengan kata lain, perangkat digital tidak boleh berhenti sebagai fasilitas yang tersedia di ruang kelas.
Dinas Pendidikan kemudian melihat peningkatan kapasitas guru sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda digitalisasi.
Sebab teknologi baru memiliki nilai ketika benar-benar digunakan untuk memperkuat pembelajaran.
Selain sarana dan sumber daya manusia, Dinas Pendidikan juga mulai membidik persoalan tata kelola pelayanan.
Salah satu gagasan yang dipersiapkan untuk 2027 adalah membangun sistem pengaduan dan komunikasi digital yang menghubungkan orang tua, guru, siswa dan Dinas Pendidikan.
Gagasan tersebut berangkat dari persoalan klasik pelayanan publik: laporan mengenai masalah di sekolah belum tentu langsung sampai kepada pihak yang memiliki kewenangan untuk menindaklanjutinya.
Melalui sistem digital, laporan diharapkan dapat tercatat dan lebih mudah dipantau.
Dinas Pendidikan dapat mengetahui persoalan yang terjadi di satuan pendidikan, sementara masyarakat memiliki saluran komunikasi yang lebih jelas.
Sistem tersebut juga dirancang agar proses tindak lanjut terhadap laporan dapat diketahui.
Namun, program tersebut masih berada dalam tahap perencanaan. Dinas Pendidikan masih mempersiapkan kebutuhan sarana, sistem, anggaran dan berbagai faktor pendukung sebelum dimasukkan dalam rencana kerja 2027.
Rangkaian agenda tersebut menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan Minahasa Utara tidak hanya diarahkan pada peningkatan hasil belajar.
Ada beberapa lapisan pekerjaan yang harus berjalan bersamaan.
Pertama, memastikan fondasi layanan dasar berupa toilet, air bersih dan lingkungan sekolah yang aman serta nyaman.
Kedua, memperkuat kapasitas guru dan kepala sekolah.
Ketiga, memastikan teknologi benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Keempat, membangun tata kelola yang memungkinkan persoalan sekolah lebih cepat diketahui dan ditindaklanjuti.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara juga telah memperkuat unsur kolaborasi dengan pelantikan Dewan Pendidikan periode 2026–2031. Lembaga tersebut diharapkan ikut mendorong perbaikan mutu dan rapor pendidikan daerah.
Dalam konteks itu, pendidikan tidak lagi dapat dipandang sebagai pekerjaan eksklusif Dinas Pendidikan.
Sekolah, guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya merupakan bagian dari ekosistem yang menentukan kualitas layanan pendidikan.
Forum bersama wartawan pun menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kebijakan pemerintah dengan realitas di lapangan.
Evelyn menilai perspektif jurnalis penting karena kalangan pers bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan masyarakat.
Masukan dari wartawan dapat menjadi bahan bagi pemerintah untuk melihat persoalan yang mungkin tidak seluruhnya tertangkap dalam laporan administratif.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan pendidikan tidak ditentukan oleh panjangnya daftar program.
Ukuran yang lebih nyata adalah apakah toilet di sekolah dapat digunakan, apakah air tersedia, apakah guru mampu memanfaatkan teknologi, dan apakah persoalan yang dilaporkan orang tua maupun siswa benar-benar mendapatkan tindak lanjut.
Sebab bagi anak yang setiap hari duduk di ruang kelas, fasilitas dasar dan kualitas layanan bukan sekadar angka dalam dokumen perencanaan.
Itulah lingkungan tempat mereka belajar dan dari sanalah pembangunan sumber daya manusia Minahasa Utara dimulai. (T3)






