Kekhawatiran kedua negara tersebut, kata Analis Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), ini berdasarkan lambannya pemerintah untuk melakukan lockdown.
Apalagi, Presiden Joko Widodo malah lebih memiliki social distancing maupun physical distancing.
“Langkah Indonesia yang lamban ambil keputusan lockdown, memilih social distancing atau physical distancing telah menimbulkan ketidakpastian. Karena kebijakan itu tidak sepenuhnya memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” jelas Ubedilah.
Tak hanya itu, kata dia, Amerika Serikat merupakan sebab negara besar yang memiliki kepentingan kepada Indonesia. Namun, dengan adanya peringatan tersebut menunjukkan kondisi di Indonesia sangat berbahaya.
- Menjawab Kebutuhan Infrastruktur Pengisian Daya Kendaraan Listrik, PLN Hadirkan Layanan Home Charging Services Ultima
- CT Scan 64 Slice Resmi Beroperasi di RSUD Kolonodale, Pasien Morut Tak Perlu Lagi ke Luar Daerah
- KKR Pengucapan Syukur Tomohon, Wali Kota Caroll: Iman Menjadi Kekuatan Menghadapi Persoalan
“Sebagai negara besar, tentu Amerika Serikat punya kepentingan pada Indonesia, tetapi peringatan untuk warga negaranya agar pulang ke Amerika Serikat itu menunjukan betapa berbahayanya kondisi Indonesia saat ini,” terangnya.
Dengan demikian, Ubedilah tak bosan kembali mendesak Presiden Jokowi untuk segera melakukan lockdown agar meminimalisir penyebaran Covid-19 secara masif.
“Kini kuncinya ada pada Jokowi, korban Covid-19 terus berjatuhan. Silahkan ambil keputusan pahit tapi sebentar atau tetap seperti saat ini tetapi penderitaan akan berkepanjangan,” pungkasnya. (*)





