Morowali – Kondisi kekeringan yang saat ini melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah (Sulteng), menyisahkan beberapa permasalah bagi para petani, baik petani sawah, perkebunan maupun petani lainnya.
Salah satunya adalah petani sawah yang berada di Desa Lantula Jaya Kecamatan Wita Ponda, Kabupaten Morowali, yang saat ini terancam mengalami gagal panen.
Kondisi tersebut disampaikan warga saat kegiatan reses Anggota DPRD Sulteng, Huisman Brant Toripalu SH MH, di Desa Lantula Jaya Kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali, Sabtu (04/11/2023).
Para warga menyampaikan, kondisi persawahan dan tanaman padi mereka begitu memprihatinkan, akibat kekeringan sehingga tidak bisa berkembang dengan baik, karena tidak ada air dan kondisi tanah menjadi terbelah-belah.
- Jelang Hari Kemerdekaan ke-81 RI, PLN UP3 Tahuna Gelar Apel dan Inspeksi Peralatan Guna Pastikan Keandalan Listrik Kepulauan Nusa Utara
- Open Turnamen Sepak Bola Danyon Cup 1 2026 Yonif TP 825/GWS Resmi di GelarOpen Turnamen Sepak Bola Danyon Cup 1 2026 Yonif TP 825/GWS Resmi di Gelar
- Kapolres Pohuwato Kecolongan atau Sengaja Tutup Mata?
“Disamping kekeringan yang melanda wilayah mereka, kodisi ini juga di perparah akibat adanya perbaikan Irigasi di Desa Ungkaya yang saat ini sedang dilaksanakan rehabilitasi irigasi, sehingga berakibat pasokan air ke persawahan terhenti total, ” ungkap salah seorang warga.
Masih menurut mereka, sekitar 50 ha sawah saat ini terancam gagal panen.
Menanggapi pernyataan tersebut, Anggota DPRD Sulteng, Brant Toripalu, meminta agar pihak Pemerintah bisa mengintervensi masalah ini, sebagai bencana gagal panen (fuso) dengan menurunkan bantuan stimulus, bagi para petani yang mengalami kegagalan, karena dalam menanam padi cukup besar biaya produksi yang di keluarkan.
“Paling tidak ada bantuan stimulun yang bisa di berikan Pemerintah Provinsi, untuk meringankan beban para petani, ” tukas Politisi Senior PDIP Provinsi Sulteng itu . ( */NAL)








