Minut-Persoalan banjir, keterbatasan lahan pekuburan hingga kebutuhan perbaikan infrastruktur menjadi sejumlah aspirasi yang mencuat dalam reses Anggota DPRD Minahasa Utara, Stendy Rondonuwu, di Desa Kolongan Tetempangan. Kamis, (27/08/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Namun di balik suasana cair itu, warga memanfaatkan kesempatan untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian pemerintah dan wakil rakyat.
Stendy, yang merupakan Ketua Komisi I sekaligus Ketua Fraksi Demokrat DPRD Minahasa Utara, mendengarkan langsung keluhan masyarakat. Aspirasi disampaikan secara bergantian dan ditanggapi melalui dialog terbuka.
Salah satu persoalan yang paling mendapat perhatian adalah aliran air yang kerap menggenangi permukiman ketika hujan deras.
Warga mengeluhkan adanya kiriman air yang masuk ke kawasan permukiman hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat penanganan agar tidak terus menjadi persoalan setiap kali hujan dengan intensitas tinggi.
Selain masalah banjir, warga juga menyoroti semakin terbatasnya lahan pekuburan di wilayah Kolongan Tetempangan.
Kebutuhan pembangunan serta peningkatan kualitas jalan turut disampaikan. Begitu pula persoalan kemacetan yang dinilai perlu dicarikan solusi karena berkaitan langsung dengan mobilitas masyarakat.
Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Stendy tidak sekadar mencatat aspirasi. Ia memberikan penjelasan secara langsung mengenai ruang intervensi DPRD serta langkah yang dapat ditempuh untuk mendorong penyelesaian setiap persoalan.
Ia menegaskan, aspirasi masyarakat yang memiliki tingkat urgensi dan skala prioritas akan dibawa ke pembahasan di DPRD.
“Semua aspirasi yang disampaikan masyarakat akan kami bawa ke paripurna. Mana yang menjadi prioritas, kami akan terus kawal,” tegas Stendy.
Menurutnya, reses merupakan bagian penting dari tugas anggota DPRD karena memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat sekaligus menyerap kebutuhan yang muncul di lapangan.
Karena itu, ia memastikan proses tidak berhenti pada menerima dan mencatat keluhan. Aspirasi yang dinilai prioritas akan dikawal melalui tahapan pembahasan agar dapat diperjuangkan masuk dalam perencanaan pembangunan dan penganggaran daerah.
“Kita tidak hanya mendengar, tetapi harus mengawal. Apa yang menjadi kebutuhan prioritas masyarakat akan kita perjuangkan dalam proses penganggaran,” ujarnya.
Usai dialog, Stendy kembali berbaur dengan warga. Ia menyapa dan berbincang tanpa sekat, membuat suasana reses terasa lebih dekat dan tidak kaku.
Kegiatan tersebut kemudian ditutup dengan penyerahan bahan kebutuhan pokok kepada warga yang hadir, menambah nuansa kekeluargaan dalam pelaksanaan reses tersebut. (T3)





