Minsel- Adanya dugaan penyalahgunaan alat berat bantuan Kementrian Perikanan Kelautan (KKP) yang diduga di komersilkan oleh ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mapalus Rino Tambajong, membuat sejumlah Ormas angkat Bicara.
Mengkomersilkan alat bantuan pemerintah (plat merah) sangat merugikan pemerintah karena tidak sesuai peruntukan sehingga mendapat sorotan tajam dari Ketua Umum DPP Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Masyarakat Transparansi Indonesia (LSM-AMTI) Tommy Tunangan.
Kepada wartawan media ini,Turangan mendesak agar Gubernur Sulut YSK untuk memerintahkan anak buahnya dalam hal ini Kepala Dinas Perikanan Kelautan dan Dinas Pertanian Propinsi untuk merekomendasikan pembekuan Pokdakan dan Poktan Mapalus yang diketuai oleh Rino Tambajong.
Hal tersebut menurut Turangan, bahwa Ketua Pokdakan dan Poktan Mapalus diduga memperkaya dirinya sendiri dengan mengkomersilkan alat berat bantuan pemerintah berupa Excavator merek Pindad dan sejumlah Alsintan yang dikuasai oleh Rino Tambajong selaku Ketua.
- Kunker di Polsek Petasia, Kapolda Nasri Serahkan Bansos Ke Sejumlah Masyarakat Kurang Mampu
- Kodim 1311/Morowali Raih Juara I Lomba Karya Jurnalistik, TMMD Ke-129 TA 2026 Kategori Dansatgas Terbaik
- Matangkan Persiapan Paripurna Dalam Rangka HUT Provinsi Ke-62, Setwan Niklas Silangen Gelar Rapat Internal Bersama Panpel
Hal senada juga di sampaikan oleh Kaban DPD Li BAPAN Sulut (Lembaga Investigasi Badan Advokasi Penyelamat Aset Negara) Marthen Sulla, mendesak agar pemerintah harus lebih memperhatikan kepentingan masyarakat umum, jangan ada yang berkedok Ketua kelompok kendati hanya kelompok di atas kertas.
Sulla juga mendesak Gubernur Sulut untuk segera mengambil langkah dan dapat merekomendasikan pembekuan Pokdakan dan Poktan Mapalus, karena diduga kelompok tersebut hanya dibuat untuk menguasai alat bantuan memerintah.
Diketahui bahwa alat berat Excavator saat ini dikerjakan pada sejumlah proyek pekerjaan sala satunya di SMK N Amurang juga di beberapa perusahaan swasta dengan nilai sewa yang sangat fantastis Rp. 2.500.000/hari. (Onai-m)







