Kaima-Sampah plastik yang dikumpulkan warga Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara, ternyata bisa berubah menjadi kebutuhan dapur.
Melalui program yang dijalankan Pemerintah Desa Kaima bersama BUMDes Karisma Jaya Wanua Kaima, sampah yang disetor warga dihitung berdasarkan jenis dan jumlahnya. Nilainya kemudian dikonversi menjadi poin untuk ditukar dengan sejumlah kebutuhan pokok.
Program tersebut kembali digelar di kawasan destinasi wisata Klewer, Desa Kaima, Sabtu (26/9/2026).
Hasilnya cukup mencolok. Salah seorang warga bahkan mampu membawa pulang hingga 14 liter beras, telur serta enam botol minyak goreng dari sampah yang dikumpulkannya.
- Dipimpin Plt Bupati, Pemkab Sitaro Belajar Pengelolaan Air Minum di Bitung
- Wajah Baru Pertigaan Pasar Rebo Purwakarta: Pesona Tugu Jam dan Kerlip Lampu Taman di Malam Hari
- Semarak HUT Ke-100 GKST Jemaat Bukit Moria Po’ona Gelar Jalan Santai, Ibadah Syukur Hadirkan Pengkhotbah Kondang Pdt Yandi Manobe STh
Penjabat Hukum Tua Desa Kaima, Sesca Vanda Koropit, S.Kes., M.K.M., mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari upaya desa membentuk kebiasaan baru dalam memperlakukan sampah.
Menurutnya, warga tidak hanya didorong untuk membersihkan lingkungan ketika kegiatan penukaran digelar. Lebih dari itu, masyarakat diharapkan terbiasa memilah dan mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai.
“Intinya kami ingin menanamkan kepada masyarakat untuk sadar lingkungan bersih. Kebutuhan masyarakat memang berbeda-beda, tetapi kalau lingkungan yang bersih saya rasa semua suka,” ujar Sesca.
Ia menjelaskan, program tersebut bukan kegiatan insidental. Penukaran sampah telah dilakukan secara rutin, setidaknya dua bulan sekali.
Sampah yang terkumpul selanjutnya masuk dalam sistem pengelolaan bank sampah untuk dipilah. Material yang masih dapat dimanfaatkan akan diolah kembali, termasuk menjadi produk kerajinan.
Beberapa di antaranya dapat dikembangkan menjadi kursi, meja hingga gantungan kunci yang memiliki nilai jual.
Dengan pola tersebut, pemerintah desa melihat sampah bukan semata persoalan kebersihan, melainkan juga sumber manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Warga memperoleh kebutuhan pokok dari sampah yang mereka kumpulkan. Pada saat yang sama, sampah yang memiliki nilai guna dapat kembali diproses menjadi barang yang bernilai ekonomi.
“Jadi dari menciptakan lingkungan yang bersih, kemudian memberikan barter bahan natura kepada masyarakat, sampai meningkatkan nilai ekonomi dari setiap sampah. Sampah itu memiliki nilai ekonomi yang bisa dijual berupa kerajinan-kerajinan,” katanya.
Antusiasme warga, kata Sesca, menjadi salah satu indikator bahwa pendekatan tersebut mulai mendapat respons positif.
Ia berharap masyarakat tidak menjadikan kegiatan penukaran sebagai satu-satunya momentum untuk peduli terhadap kebersihan.
Sebaliknya, kebiasaan mengangkat sampah yang ditemukan, menegur orang yang membuang sampah sembarangan dan memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari harus terus dibangun.
“Saya selalu mengimbau kepada masyarakat, mari kita ketika melihat sampah itu angkat. Ketika melihat orang yang membuang sampah, kita tegur. Kita juga harus memberikan contoh dengan tidak membuang sampah sembarangan,” tandasnya. (T3)





