Pendistribusian Air Bersih Terganggu, Bily Ladi Tegaskan Hal Ini Kepada PDAM Bitung

Bitung, Redaksisulut – Terjadi lagi permasalahan di PDAM Kota Bitung, dimana sebelumnya mengenai yang diduga jika Tenaga Harian Lepas (THL) tidak masuk kerja 1 hari akan ada potongan upah 3 hari kini keterlambatan pengerjaan pipa yang bocor diakibatkan kurangnya pekerja yang berpengalaman.

Baca Juga : https://redaksisulut.com/diduga-pdam-duasudara-bitung-potong-upah-3-hari-jika-tidak-masuk-kerja-1-hari-raymond-katakan-ini/

Untuk pengerjaan pipa yang ada di jalur lokasi pengerjaan jalan tol kelurahan Pinokalan yang dikatakan lambat sehingga mengakibatkan pendistribusian air ke daerah terdampak terganggu.

“Lambatnya pekerjaan perbaikan karena kurangnya THL dalam hal ini pekerja yang berpengalaman tidak masuk. Siapa yang suka kerja atau akan rajin jika hak upah yang seharusnya di hitung lembur jika lewat jam kerja tetapi tidak dihitung?”. Kata sumber yang tidak ingin namanya di sebut.

Ia juga menyampaikan bahwa, kurangnya pekerja diakibatkan oleh banyak tenaga kerja yang dipaksa masuk walau sudah harinya untuk off.

“Apalagi kebanyakan pekerja yang tidak mempunyai kedekatan dengan, I gede Jeffry selaku Supervisor Storing jika punya kesalahan sedikit itu bisa berujung dipemberhentian kerja. Padahal apa yang dikerjakan dilapangan sudah sesuai”. Tambahnya seraya mengatakan bahwa, tolong hargai tenaga kami.

Menanggapi hal ini, Aktivis Muda Bily Ladi menyatakan bahwa pihak PDAM Kota Bitung harus lebih maksimal dalam memperhatikan pekerja, khususnya para THL, karena pekerjaan-pekerjaan seperti ini sangat membutuhkan tenaga lapangan yang siap.

“Jangan paksakan THL harus kerja lebih dari batas jam kerja yang sudah tidak wajar, apalagi tanpa uang lembur dan tanpa ada hari yang cukup untuk istirahat. Kan jelas dalam UU 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan yang di dalamnya mengatur tentang jam kerja, 8 jam kerja untuk 5 hari kerja dalam seminggu dan 7 jam kerja utk 6 hari kerja dalam seminggu. implikasinyakan seperti ini, kurangnya tenaga di lapangan akibat banyak THL yang tidak siap turun akibat kelelahan. Yang muaranya juga akan ke masyarakat yang tidak bisa mengakses air bersih ketika ada kerusakan seperti ini”. Katanya.

Baca Juga : https://redaksisulut.com/rendy-rompas-angkat-bicara-mengenai-permasalahan-pemotongan-upah-di-pdam-bitung/

https://redaksisulut.com/oudy-lumingkewas-klarifikasi-permasalahan-di-pdam-bitung-taputar-putar-sampai-salah-sebut-hal-ini/

Ia juga mengatakan bahwa dalam perjanjian kontrak THL juga kan terlampir hak dan kewajiban pekerja dan pemberi kerja, itu yang dijadikan acuan, jangan berlaku diskriminasi dan tebang pilih.

“Status THL itu Mitra pemerintah yang difungsikan untuk membantu pelaksanaan tugas sehari-hari dalam hal kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada publik, yang juga padanya melekat bukan hanya kewajiban tapi juga ada hak yg harus dipenuhi”. Tegas Ladi

Seraya menambahkan bahwa, Pihak PDAM Bitung perlu Evaluasi internal secepatnya, mengingat banyaknya keluhan warga karena pelayanan yang belum maksimal juga banyak kemacetan akses air di Kota Bitung akibat kerusakan yang timbul oleh pembangunan yang sifatnya ekstraktif.

“Contohnya Pembangunan proyek jalan tol di sekitar mata air AER UJANG dan Soal kemacetan suplai air akibat kerusakan pipa, pihak PDAM dan instansi terkait juga harus lebih tegas kepada pihak pelaksana, dalam hal ini pihak tol. Minimal harus meminta pertanggungjawaban, karena Masyarakat sudah kurang lebih 5 hari tidak bisa mengakses hak atas air bersih karena pekerjaan proyek jalan tol. Jelas ini sangat merugikan masyarakat”. Jelas Ladi.

Sementara itu, Direktur PDAM Duasudar Bitung, Raymond Luntungan, ST, M.Si saat dikonfirmasi via WhatsApp hanya menanggapi singkat.

“Sapa yang lembur ? Dengar dari mana ?”. Singkatnya.

Sampai Berita ini di kirim, Raymond sudah tidak menanggapi pertanyaan persolan tersebut. (Wesly)

Related posts