Orkes Makaaruyen Bawa Ratapan Akustik Tanah Tombulu ke Jakarta Beat Society 2026

oleh -937 Dilihat

Jakarta-Kekayaan seni dan budaya Minahasa kembali mendapat ruang untuk bergema di panggung nasional. Orkes Makaaruyen yang berada di bawah naungan Forum Seni dan Budaya Ne Tombulu, Tomohon, Sulawesi Utara, akan tampil dalam ajang Jakarta Beat Society (JBS) 2026 yang digelar pada 22–23 Agustus 2026 di M Bloc Space, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Kehadiran Orkes Makaaruyen menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan musik tradisional Tombulu dan Minahasa kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda di ruang urban.

Kelompok musik ini diperkuat delapan musisi tradisi, yakni Otce Lagana, Agnes Mentang, Olga Rotikan, Erihan Paat, Alexius Rumondor, Claudio Tiwow, Adrianus Ngenget, dan Tommy Talokon.

Dalam penampilannya, Orkes Makaaruyen akan membawakan enam nomor lagu yang memadukan folk klasik dengan kreasi modern. Repertoar tersebut mengangkat bahasa asli Tombulu dan tutur Melayu Manado sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi lisan Minahasa.

Yang menarik, karakter musik Orkes Makaaruyen memiliki warna tersendiri. Mereka tidak hanya mengandalkan vokal, tetapi juga menghadirkan konfigurasi instrumen akustik yang khas dan sarat nilai budaya.

Formasi musik antara lain ditopang dua ukulele kayu dengan lubang resonansi berbahan batok kelapa. Dalam sejumlah tradisi masyarakat Minahasa dan Tombulu, instrumen tersebut dikenal sebagai Kapuratja, yang dikaitkan dengan penggunaan kayu lokal sebagai bagian dari konstruksi alat musik.

Sementara untuk menghasilkan nada rendah sekaligus menjaga tempo, Orkes Makaaruyen menggunakan Peti Bass atau Yangere, instrumen berbentuk kotak kayu yang dimainkan dengan teknik pukulan. Instrumen tersebut memperlihatkan perpaduan antara fungsi dawai dan perkusi dalam tradisi musik masyarakat Sulawesi Utara.

Warna musikal semakin kuat dengan kehadiran kolintang bilah bambu tradisional, yang menghasilkan karakter suara nyaring dan khas. Nuansa tersebut kemudian diperkaya dengan siulan liris atau spuit yang menjadi bagian dari ekspresi musikal kelompok.

Bagi Orkes Makaaruyen, musik bukan sekadar rangkaian nada dan irama. Di dalamnya terdapat pesan filosofis mengenai kehidupan, kerinduan, cinta kasih, kesedihan, serta hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Konsep tersebut berkaitan dengan tradisi Kalelon atau Makalelon, yang berakar pada kata Lelon atau Lelo. Filosofi “Upus Wo Lelo” menggambarkan kedalaman perasaan dan ketulusan hati yang menjadi bagian dari ekspresi masyarakat Minahasa.

Nilai tersebut tercermin dalam lagu-lagu yang akan dibawakan.

Lagu “Oh Minahasa”, misalnya, membawa pesan mengenai kecintaan terhadap tanah kelahiran sekaligus memori kolektif masyarakat Minahasa.

Sementara “Lumaya” dan “Mangemo Sako Mangemo” menyampaikan pesan kehidupan, nasihat moral, serta harapan baik bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

Kemudian lagu rakyat “Tinggal di Kobong” menggambarkan kehidupan masyarakat agraris, semangat gotong royong atau Mapalus, kejujuran, serta romantisme kehidupan sederhana di kampung.

Lagu “Cap Tikus” turut dihadirkan sebagai bagian dari narasi budaya masyarakat agraris Minahasa. Dalam konteks pertunjukan Orkes Makaaruyen, lagu tersebut tidak semata-mata ditempatkan sebagai hiburan, tetapi juga sebagai gambaran tentang kehidupan, kearifan lokal, dan daya tahan masyarakat yang hidup di wilayah pegunungan Minahasa.

Sementara “Maramba” menghadirkan sisi emosional melalui ratapan kasih yang mendayu-dayu, sekaligus memperkuat karakter musik Makaaruyen yang dekat dengan ekspresi batin dan perasaan manusia.

Keikutsertaan Orkes Makaaruyen dalam Jakarta Beat Society 2026 sekaligus menjadi ruang bagi seni tradisi untuk berdialog dengan perkembangan musik kontemporer.

Perpaduan ukulele batok kelapa, Peti Bass/Yangere, bambu, vokal, dan siulan menunjukkan bahwa musik tradisional memiliki kemampuan untuk beradaptasi tanpa harus kehilangan identitasnya.

Melalui penampilan tersebut, Orkes Makaaruyen ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus ditempatkan hanya di ruang masa lalu. Sebaliknya, tradisi dapat terus hidup, berkembang, dan hadir di tengah masyarakat modern.

Kehadiran mereka di Jakarta juga diharapkan menjadi jembatan kebudayaan antara masyarakat Sulawesi Utara dengan komunitas seni dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan membawa semangat “Sitou Timou Tumou Tou”, Orkes Makaaruyen menjadikan seni sebagai medium untuk memperkuat persaudaraan, memperkenalkan identitas budaya, sekaligus memanusiakan manusia melalui karya.

Masyarakat dan pencinta musik tradisi dapat menyaksikan penampilan Orkes Makaaruyen pada 22–23 Agustus 2026 di M Bloc Space, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dari tanah Tombulu, suara itu kembali menggema—membawa kerinduan, kisah kehidupan, dan identitas budaya Minahasa ke panggung yang lebih luas. (Bertje/Otce)

No More Posts Available.

No more pages to load.